• 24 August 2026

Peternak Tonjong Sulap Kotoran Sapi Menjadi Energi Terbarukan

uploads/news/2026/08/peternak-tonjong-sulap-kotoran-98387b0430b86fd.jpeg

Jagad Tani - Limbah kotoran sapi, akan menjadi sebuah permasalahan tersendiri bagi seorang peternak, jika tidak ditangani dengan baik. Namun bagi Lisawati Anggraeni dan kelompok peternak sapi perah Tonjong, kotoran sapi justru disulap menjadi energi terbarukan, Biogas.

"Limbah (kotoran sapi) itu kita jadikan biogas, jadi mengurangi populasi (kotoran, dan) kotorannya (jadi) enggak berceceran ke mana-mana," jelas Lisawati, di kandang peternakannya yang berlokasi di Desa Tonjong, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor.

Baca juga: Petani Bantul Kawinkan Teknologi dan Sistem Tumpangsari

Memiliki total populasi sekitar 60 ekor sapi dan didominasi oleh sapi perah, menurut Lisawati, kotoran yang dihasilkan sapi-sapi di kandang kelompoknya tersebut hampir semuanya dijadikan biogas, dan ampas dari kotoran hasil pengolahan limbah biogas pun sudah tidak berbau.

"Sudah bersih lah begitu (dari limbah kotoran sapi). Kalau untuk biogas ini kita ada empat jenis biogas, jadi Fixed Dome (Reaktor Kubah Tetap, yang bagian atas kubahnya berfungsi untuk menampung gas) itu mewakili hampir tujuh rumah," ungkapnya.

"Keran pembuka saluran biogas ke rumah peternak di Tonjong" (Foto: Jagad Tani).
 

Dilanjutkan bahwa, pemasangan biogas itu sendiri sudah dilakukan sejak tahun 2000, dan didapatkan dari bantuan Rumah Energi, yang pemasangan pertamanya tidak langsung dipasang sebanyak empat fixed dome seperti saat ini.

"Itu pertama(nya cuma ada) satu, dan berkala, sekarang kita punya empat," ujar wanita yang juga pendiri dari Naura Fresh Milk, brand susu murni yang dihasilkan dari sapi Friesien Holstein (FH) di kandang kelompok peternaknya.

Dalam mengelola kotorannya pun, Lisawati menilai tidak memiliki kesulitan yang berarti dan gas yang dihasilkan pun tidak berbahaya. Kotoran sapi tersebut juga langsung dimasukkan ke dalam tabung penggilingan kotoran.

"Karena si kotoran sapi langsung dimasukkan ke tabung penggilingan (atau tabung pengadukan) dulu, nanti dia masuk ke dalam Fixed Domenya, tinggal (menunggu) keluar gasnya saja, (dan biogas siap dipakai untuk memasak)," tuturnya.

Biasanya untuk pengolahan biogas, campuran yang digunakan oleh Lisawati, perbandingannya, dalam 1 ember kotoran sapi, nantinya bakal dicampurkan dengan 2 ember air, yang nantinya akan diaduk di tabung pengadukan.

"Proses pengadukan dengan campuran air dan kotoran sapi" (Foto: Jagad Tani).
 

"Setelah (proses pengadukan) itu barulah masuk ke fixed dome yang berukuran 6 kubik atau 6.000 liter. Nah itu bisa men-supplly kebutuhan dapur untuk dua rumah," terangnya.

Proses pengisian tersebut, menurutnya, dilakukan sebanyak satu kali setiap hari dan dilakukan setiap pagi. Adapun penggunaan gasnya bisa bertahan selama 2 jam pemakaian, dan nantinya ketika habis, gasnya akan mengisi dengan otomatis di hari itu juga.

"Setelah 2 jam kita pakai (memasak di pagi hari), didiamkan (saja) nanti siang dia sudah mengisi lagi tanpa harus kita isi fixed domenya, jadi gasnya mengisi sendiri. Besok pagi baru kita isi lagi fixed domenya. Untuk masak di rumah (jadinya) tidak (perlu) beli gas lagi," sambungnya.

"Api yang dihasilkan dari energi terbarukan biogas" (Foto: Jagad Tani).
 

Dengan memanfaatkan limbah kotoran sapi di kandang jadi biogas, Lisawati dan kelompoknya bukan hanya mampu memproduksi susu sapi, tetapi menawarkan solusi keberlanjutan energi yang ramah lingkungan, sekaligus menghemat cost produksi rumah tangga.

"Bagi peternak-peternak lain, mungkin yang masih membuang limbah kotoran sapinya ke kali atau ke selokan, mungkin bisa (mencoba) memanfaatkan biogas, karena bagus, untuk ke lingkungan juga tidak merusak. Jadi kalau misalnya memang (mau untuk mencoba) bisa kita pakai biogas saja," pungkasnya.

Related News