Petani Bantul Kawinkan Teknologi dan Sistem Tumpangsari
Jaagad Tani - Pemanfaatan teknologi pertanian jadi kunci Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), untuk mempermudah penggarapan lahan bawang merah seluas 200 hektare.
Kadiso, selalu Ketua Gapoktan Kalurahan Parangtritis menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi itu, salah satunya diterapkan pada sistem penyiraman tanaman bawang merah dengan menggunakan pompa listrik.
Baca juga: Hiu Air Tawar hingga Labi-Labi Ada di Pasar Sawo
Menurutnya, penggunaan teknologi ini dapat meringankan pekerjaan petani, sekaligus menekan biaya yang dikeluarkan untuk penyiraman, sehingga keuntungan petani, dan cost pengeluaran bisa ditekan.
"Efisiensi biaya penyiraman bisa tertekan sebesar 88% dibanding dengan pompa Bahan Bakar Minyak (BBM)," jelas Kadiso sebagaimana tertera dalam keterangan tertulisnya di Antara, dikutip Minggu (23/8).
Selain penerapan elektrifikasi pada sistem penyiraman, teknologi ini juga dimanfaatkan untuk memasang light trap, sebagai pengendalian hama dan penyakit yang ramah lingkungan serta relatif murah.
Light trap merupakan alat perangkap hama yang menggunakan cahaya lampu dan dipasang di lahan bawang merah untuk menarik serta menjebak hama sebelum bertelur pada tanaman. "Light trap ini efektif sekali," ungkapnya.
Kardiso mengatakan, pemanfaatan teknologi lain berupa penggunaan pesawat nirawak atau drone untuk pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) juga dinilai efektif, dan hemat dalam meningkatkan efisiensi tenaga kerja.
"Akan tetapi drone tadi yang diterbangkan itu biasa dipinjam dari Maksitani, harapannya bisa punya drone sendiri," tuturnya.
Selain itu, para petani di kawasan tersebut, dijelaskan Kadiso, bahwa mereka juga menerapkan pola tanam serentak, yang di beberapa bagian lahannya dikombinasikan dengan sistem tumpangsari.
"Jadi kalau di sini ada bawang merah, semua bawang merah, tidak ada tanaman lain kecuali tanaman tumpangsari cabai," papar Kardiso.
Hasilnya, dengan perpaduan antara teknologi dan penerapan sistem tumpangsari tesebut, para petani setidaknya bisa memperoleh hasil panen bawang merah secara optimal, dengan hasilnya yang mencapai 21 ton per hektare.
"Sebanyak 21 ton (per hektare) itu sudah bersih, sudah dikemas, tidak ada daun dan akar, sedangkan total lahan di sini 200 hektare, tinggal dikalikan," tandasnya.

