Produktivitas Tebu Digenjot, 2027 Ditargetkan Swasembada Gula
Jagad Tani - Dalam rangka mempersiapkan swasembada gula konsumsi nasional yang ditargetkan tahun 2027, tentu fondasi dasarnya harus diperkuat, mulai dari perluasan lahan tebu, penggunaan benih unggul, serta meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani tebu.
Berdasarkan Taksasi Tengah Giling Tahun 2026, produksi Gula Kristal Putih (GKP) nasional diperkirakan mencapai 3.018.459 ton. Angka tersebut meningkat, jika dibandingkan dengan hasil produksi GKP tahun 2025 yang tercatat di 2.668.075 ton.
Baca juga: Dikepung Karhutla, Bagaimana Nasib Orangutan Kalimantan
Bahkan luas areal pada 2026, tercatat sekitar 585.390 hektare, meningkat bila dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 563.357 hektare. Sedangkan jumlah produksi tebu tahun 2026 diperkirakan mencapai 40.195.133 ton, naik dari 39.069.968 ton pada tahun 2025.
Dari sisi rendemen, Taksasi Tengah Giling 2026 berasa di angka 7,51%, meningkat jika dibandingkan rendemen tahun 2025 sebesar 6,83%. Kenaikan rendemen jadi salah satu faktor penting peningkatan produksi gula, karena menunjukkan optimalnya perolehan gula dari bahan baku tebu.
Menurut Heru Tri Widarto, Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) peningkatan produksi tidak hanya ditempuh melalui penambahan luas areal, tetapi juga melalui perbaikan produktivitas tanaman dan kualitas bahan baku.
“Target swasembada gula konsumsi tidak cukup hanya dengan menambah luas tanam. Yang kita dorong adalah peningkatan produktivitas dari hulu, mulai dari penggunaan benih unggul bersertifikat, perbaikan budidaya, bongkar ratoon, dukungan sarana produksi, hingga penguatan pendampingan kepada pekebun,” ujar Heru.
Melalui data Taksasi Tengah Giling, produksi gula nasional pada tahun 2026,setidaknya didukung oleh 39 pabrik gula BUMN dan 19 pabrik gula swasta, dengan jumlah pekebun tebu sekitar 731.705 orang.
Pada tahun 2026, Kementan setidaknya mengembangkan kawasan tebu sekitar 97.970 hektare, yang diperkuat melalui anggaran sekitar Rp1,448 triliun guna mendorong peningkatan produktivitas dan pengembangan kawasan tebu.
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat produktivitas kebun, termasuk melalui bongkar ratoon. Langkah ini menyasar tanaman tebu yang telah berumur tua dan mengalami penurunan produktivitas untuk diremajakan dengan tanaman baru menggunakan benih unggul.
“Bongkar ratoon memberikan dua manfaat sekaligus. Pekebun memperoleh dukungan untuk menekan biaya pengadaan benih, sementara tanaman baru diharapkan mampu memberikan produktivitas yang lebih baik,” ujar Heru.
Untuk mendukung program tersebut, sekitar 5,9 miliar mata benih unggul juga disiapkan. Pengembangan kawasan pun diperkuat lewat pendampingan penyuluh, pupuk subsidi, dan dukungan irigasi perpompaan di wilayah yang membutuhkan.
Swasembada gula dinilai sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian pangan sekaligus menyiapkan fondasi pengembangan energi nabati. Sebab gula bukan cuma soal pangan, tetapi bagian dari pengembangan bioetanol.
Dalam jangka panjang, produktivitas tebu ditargetkan mencapai 93 ton per hektare dengan rendemen 11,20% pada 2030, sebagai bagian dari percepatan swasembada gula nasional dan penyediaan bioetanol sebagai bahan bakar nabati dalam Perpres Nomor 40 Tahun 2023.
“Target 2027 adalah tonggak penting, tetapi bukan garis akhir. Setelah kebutuhan gula konsumsi terpenuhi, peningkatan produksi tebu akan terus dilanjutkan untuk menuju swasembada gula total sekaligus mendukung penyediaan bahan baku energi nabati,” tukas Heru.

