Pengendali Penyakit Akar Putih Tanaman Karet, Dikembangkan
Jagad Tani - Inovasi pengendalian penyakit akar putih pada tanaman karet, tengah dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yakni dengan memanfaatkan bakteri agens pengendali hayati (APH).
Widi Amaria, selaku Peneliti Ahli Muda BRIN menjelaskan bahwa penyakit akar putih disebabkan oleh jamur Rigidoporus microporus yang menyerang perakaran tanaman karet, dengan mengembangkan pendekatan seleksi bakteri APH lewat berbagai mekanisme kerja.
Baca juga: Lindungi Satwa, Negara Ini Tutup Kebun Binatang
“Penggunaan pendekatan multimekanisme penting untuk mendapatkan kandidat bakteri yang tidak hanya mampu menghambat patogen, tetapi juga dapat mendukung pertumbuhan dan ketahanan tanaman," jelasnya dalam keterangan resmi di BRIN dikutip Rabu (19/8).
Melalui seleksi multimekanisme tersebut, lanjut Widi, peluang untuk memperoleh kandidat yang aman, efektif, stabil, dan tangguh menjadi lebih besar.
Penelitian ini diawali dengan serangkaian pengujian koleksi 95 isolat bakteri, meliputi keamanan hayati, aktivitas antibiosis, produksi enzim hidrolitik, kemampuan menghambat kolonisasi R. microporus pada substrat alami, hingga identifikasi molekuler.
Dari proses tersebut diperoleh 22 isolat yang diseleksi lebih lanjut menjadi 10 kandidat bakteri potensial.
“Seleksi dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai mekanisme, antara lain produksi senyawa organik terdifusi dan volatil. Kemudian aktivitas enzim hidrolitik seperti kitinase, glukanase, dan selulase, serta kemampuan bakteri menghambat kolonisasi patogen pada medium tanah,” jelasnya.
Penggunaan Analytical Hierarchy Process (AHP) turut membantu menentukan prioritas kandidat berdasarkan berbagai kriteria secara sistematis. Selain sebagai pengendali hayati, 10 kandidat bakteri juga menunjukkan potensi sebagai biofertilizer dan biostimulant.
"Bakteri tersebut berpotensi melarutkan fosfat dan kalium, menambat nitrogen, serta menghasilkan fitohormon seperti IAA, giberelin, zeatin, dan kinetin yang mendukung pertumbuhan tanaman,” tuturnya.
Tahap berikutnya, dilakukan pengujian 5 kandidat bakteri terhadap R. microporus dan tanaman karet di rumah kaca. Hasilnya menunjukkan aplikasi bakteri APH secara tunggal maupun kombinasi mampu memperlambat kolonisasi patogen dan menekan perkembangan penyakit.
Hasil paling tinggi diperoleh pada aplikasi kombinasi bakteri APH dengan tingkat penekanan penyakit mencapai 92,11% setelah delapan bulan setelah inokulasi. Sementara itu, perlakuan bakteri secara tunggal menunjukkan penekanan penyakit sebesar 81–89%.
“Hasil tersebut lebih tinggi dibandingkan perlakuan fungisida sintetik yang pada pengujian menghasilkan penekanan sebesar 10,53%. Aplikasi kandidat bakteri APH tunggal dan kombinasi menekan penyakit akar putih 81–92%,” papar Widi.
Bukan cuma menekan penyakit, aplikasi bakteri APH juga meningkatkan pertumbuhan dan biomassa tanaman karet. Pengujian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas enzim di dalam tanaman yang berpotensi menginduksi ketahanan tanaman terhadap penyakit.
Materi penelitian Widi tersebut diambil dari penelitian tugas akhir kuliahnya. Berdasarkan keterangannya, penelitian tersebut memperoleh dukungan fasilitas dari perguruan tinggi tempat ia menempuh pendidikan dan dukungan pendanaan dari Kementerian Pertanian.
Pemaparan Widi menegaskan bahwa seleksi bakteri multimekanisme menggunakan analisis hierarki dapat mengoptimalkan kinerja bakteri APH. Kandidat bakteri yang diperoleh berpotensi menekan perkembangan infeksi R. microporus, meningkatkan pertumbuhan, serta mendukung ketahanan tanaman.

