• 27 September 2020

Bioflok Picu Produktivitas Perikanan Nasional

uploads/news/2020/08/bioflok-picu-produktivitas-perikanan-390582c2796c339.jpg
SHARE SOSMED

Budidaya ikan sistem bioflok merupakan teknologi yang memicu peningkatan produktivitas perikanan budidaya, yang secara otomatis juga menghadirkan peluang untuk keterlibatan masyarakat yang lebih banyak.”

JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebut, budidaya ikan dengan menggunakan sistem bioflok akan memicu produktivitas sektor kelautan dan perikanan di berbagai daerah.

Budidaya ikan sistem bioflok merupakan teknologi yang memicu peningkatan produktivitas perikanan budidaya, yang secara otomatis juga menghadirkan peluang untuk keterlibatan masyarakat yang lebih banyak,” ujar Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto, dalam keterangan tertulis KKP, Kamis (6/8) kemarin.

Menurut Slamet, saat ini sistem bioflok menjadi salah satu primadona di masyarakat, khususnya di kalangan pembudidaya ikan.

Sistem bioflok sendiri merupakan kumpulan dari berbagai organisme baik bakteri, jamur, protozoa, atau pun algae yang tergabung dalam gumpalan.

Selain itu, lanjutnya, penerapan teknologi bioflok juga dinilai semakin maju di masyarakat dengan adanya inovasi dan kreativitas dari pembudidaya untuk mengembangkan teknologi tersebut lebih jauh.

Slamet juga mengajak para pelaku usaha budidaya untuk terus mengedepankan prinsip keberlanjutan dalam kegiatan budidaya, baik dari segi lingkungan, sosial, maupun dari ekonomi atau usahanya.

Sejak diterapkan di masyarakat pada tahun 2015, dengan pengaplikasian yang tepat, bioflok telah menjadi solusi jitu bagi pembudidaya untuk meningkatkan produktivitas serta perekonomian masyarakat. Bukan hanya bagi pembudidaya, namun perekonomian masyarakat sekitar seperti penjual peralatan pendukung seperti terpal, jaring, ember, dan sebagainya,” jelasnya.

Slamet juga mendukung kreativitas yang dikembangkan dalam kegiatan bioflok.

Apa lagi, saat ini saat ini sedang marak budidaya sayuran dengan lele, serta marak juga berbagai model probiotik.

Pemerintah, lanjutnya, terus melakukan pengawasan serta pendataan terhadap produk probiotik yang digunakan sebagai bahan bioflok.

Sehingga, pemerintah bisa menjamin probiotik tersebut merupakan produk yang sudah terstandarisasi.

Sebagai informasi, pada 2019, KKP telah menggelontorkan 260 paket bantuan budidaya ikan lele maupun nila sistem bioflok yang tersebar di 32 provinsi dan 121 kabupaten/kota dengan nilai bantuan mencapai Rp44 miliar.

Untuk 2020, KKP berencana akan kembali mendistribusikan bantuan sebanyak 371 paket dengan nilai bantuan mencapai Rp73,4 miliar.

Comment

Related News

Jagad Tani App Download

Free Sign & Download, Android App