Jawab Aspirasi Adriano, Alor Digelontorkan Bantuan Beras
Jagad Tani - Setelah menerima aspirasi dari Adriano Padama, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Diponegoro (Undip) asal Kabupaten Alor. Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian (Mentan) langsung meminta Perum Bulog, untuk menggelontorkan beras SPHP, serta bantuan pangan beras.
Gelontoran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dikirimkan ke Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), ini ditujukan agar masyarakat Alor bisa segera memperoleh beras dengan harga yang sesuai ketentuan harga acuan pembelian (HAP).
Baca juga: Industri Agro Indonesia, Harus Memperluas Pasar Ekspor
"Oke, harga beras di sana cukup tinggi, kirim beras di sana dulu. Oke, hari ini ya. Ini Dirut tadi, kalau tidak ada gudang, bangun gudang di sana. Kemudian hari ini, sudah Dirut, kirim beras di sana. Dan insya Allah harganya cuma Rp12.500 ya," ujar Amran dalam keterangan tertulisnya dikutip Senin (10/8).
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya untuk memastikan bahwa masyarakat di wilayah 3TP (tertinggal, terdepan, terluar, dan pedalaman) juga memperoleh akses pangan yang cukup dengan harga yang terjangkau.
Amran menjelaskan jika distribusi beras harus menjangkau seluruh wilayah di Kabupaten Alor. "Merata sampai daerah seluruh pulau. Nanti, aku pantau," ucap Amran lagi kepada Direktur Utama Bulog.
Dalam catatan Badan Pangan Nasional (Bapanas), realisasi penyaluran beras SPHP di Kabupaten Alor selama periode Maret–Juli 2026 sudah mencapai 764.070 kilogram (kg). Penyaluran melalui Rumah Pangan Kita (RPK) sebanyak 356.470 kg, pengecer di pasar rakyat sebanyak 352.150 kg, dan Gerakan Pangan Murah (GPM) sebanyak 55.450 kg.
Selain melalui SPHP beras, penyaluran Cadangan Beras Pemerintah (CBP) juga dilakukan dalam bentuk bantuan pangan beras dan minyak goreng. Hingga 31 Juli 2026, realisasi penyaluran bantuan pangan secara nasional telah mencapai 662.867.840 kg beras dan 132.573.568 liter minyak goreng, atau 99,70% dari target penyaluran kepada 33,24 juta Penerima Bantuan Pangan (PBP).
Khusus di NTT, penyaluran bantuan pangan tahap pertama telah terealisasi 100% kepada 837.612 PBP atau setara 16.752.240 kg, dan di Kabupaten Alor telah tersalurkan sebanyak 746.000 kg. Total penggelontoran CBP untuk masyarakat Alor ada sebanyak 1,5 juta kg, dari realisasi SPHP beras yang 764 ribu kg ditambah 746 ribu kg.
Adapun alokasi bantuan pangan Juli–September 2026, Kabupaten Alor memperoleh alokasi bagi 37.338 PBP. Guna menjaga akses masyarakat terhadap pangan pokok di wilayah kepulauan, sehingga mereka tetap memperoleh beras dengan harga yang terjangkau serta pasokan yang memadai.
Secara nasional, hingga 6 Agustus 2026, penyaluran beras SPHP telah mencapai 17.621.980 kilogram melalui 1.529 mitra yang terdiri atas 678 Rumah Pangan Kita (RPK), 494 pengecer pasar rakyat, 77 instansi pelaksana Gerakan Pangan Murah (GPM), serta berbagai saluran distribusi lainnya.
Sebelumnya, saat Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Undip Tahun Akademik 2026/2027 pada Kamis (6/8/2026) di Undip Semarang, mahasiswa asal Alor, Adriano menjelaskan dalam sesi dialog, bahwa kebutuhan beras di daerahnya mencapai sekitar 24 sampai 27 ribu ton per tahun. Sementara produksi lokal baru mampu memenuhi sekitar 10% kebutuhan masyarakat.
"Nah masalahnya Pak, kebutuhan beras kami itu sekitar 24-27 per tahun, sedangkan kemampuan kami cuma bisa 10%, sehingga harga beras sering naik dan mahal, Pak," ungkap Adriano.
Tingginya biaya distribusi, menyebabkan harga beras di Alor jauh lebih tinggi dibandingkan daerah lain. Di wilayah perkotaan harga beras berkisar Rp 13.000 hingga Rp 15.000 per kg, sedangkan di wilayah pedalaman, harga dapat mencapai Rp 17.000 hingga Rp 18.000 per kg. Bahkan ketika musim hujan menghambat distribusi antarpulau, harga beras bisa melonjak hingga Rp 25.000 sampai Rp 30.000 per kg.
"Kalau di wilayah perkotaan harganya sekitar Rp 13 ribu sampai Rp 15 ribu per kilogram. Tapi di pedalaman bisa Rp 17 ribu sampai Rp 18 ribu. Saat terjadi hujan, jadi susah kirim beras. harganya bisa mencapai Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram," tukas Adriano.

