• 8 August 2026

Beternak Lebah di Atas Puing-Puing Reruntuhan Gaza

uploads/news/2026/08/beternak-lebah-di-atas-261805f8b9beeb4.jpeg

Jagad Tani - Di antara reruntuhan Kota Gaza, Palestina, tepatnya di atas atap bangunan yang rusak akibat perang, Ibrahim al-Dabba, seorang peternak lebah, tetap memperjuangkan sumber penghidupannya dengan membudiyakan lebah.

"Lebah membutuhkan pohon, kami memelihara lebah di antara puing-puing," kata Ibrahim, sebagaimana tertera dalam laporan tertulisnya di Reuters, dikutip Minggu (8/8).

Baca juga: Minyak Akar Wangi, Komoditas Unggulan dari Garut

Bagi para peternak lebah di Gaza, perjuangan membangun kembali mata pencaharian setelah lebih dari dua tahun perang bukan hanya soal madu, tapi juga soal pelestarian salah satu penyerbuk alami di wilayah yang lahan pertaniannya telah hancur. Selain itu, akses ke kebun buah-buahan yang berada di dekat perbatasan Israel, juga telah terputus.

Menurut insinyur pertanian dan peternak lebah, Rateb Sammour, sebelum perang, para peternak lebah memelihara sekitar 30.000 sarang. Produksi madu pun menurun, dari sekitar 400 metrik ton per tahun beberapa tahun lalu menjadi sekitar setengahnya karena perubahan iklim memengaruhi musim berbunga.

Namun, konflik dinilai memberi pukulan yang jauh lebih besar. Sammour, sebelumnya merupakan seorang peternak lebah dan produsen madu terkenal di Gaza, saat ini memperkirakan ada sekitar 700 sarang lebah yang masih tersisa, dan para peternak lebah membagi sarang-sarang tersebut untuk membantu mempertahankan jumlahnya.

Iapun memperkirakan, bahwa produksi madu hanya mencapai 10% dari total produksi sebelum perang. Di sebagian besar wilayah Gaza, yang lingkungannya hancur lebur, para peternak lebah bahkan berusaha menyelamatkan apa pun yang masih bisa diselamatkan.

Sebagian orang menempatkan sarang lebah di atap rumah, karena lahan pertanian tidak dapat diakses atau telah rusak. Sebagian lainnya menggunakan suplemen gula untuk meningkatkan makanan bagi lebah mereka di tempat-tempat yang tidak memiliki sumber makanan yang memadai.

Pada akhir April, Israel secara efektif telah menguasai sekitar 64% wilayah Gaza, dan dari sekitar 2 juta penduduk wilayah tersebut, terkonsentrasi di daerah pesisir sempit yang berada di bawah kendali Hamas, sebagian besarnya tinggal di bangunan yang rusak atau tempat penampungan darurat dan dalam kondisi yang memprihatinkan.

Setelah gencatan senjata Oktober lalu, Dabba, 49 tahun, berharap dapat kembali menekuni pekerjaan yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi ini. Namun, yang didapatnya hampir tidak ada lagi.

"Kami tidak dapat menemukan lebah, kami tidak dapat menemukan peralatan, kami tidak dapat menemukan kerangka sarang, kami tidak dapat menemukan apa pun untuk membuat kami kembali memelihara lebah," jelasnya. "Kami bahkan dilarang memasuki wilayah pertanian," sambungnya.

Dabba, juga menjelaskan bagaimana mereka berada di dalam garis demarkasi militer kuning yang ditetapkan berdasarkan gencatan senjata. Tentunya untuk memulai usaha dari awal, akan membutuhkan biaya yang sangat besar.

Bahkan hanya untuk tiga sarang lebah, yang belum termasuk peralatan, dia harus membayar 10.000 shekel ($3.245) atau jika dirupiahkan, angkanya berada di kisaran Rp59.366.319 hingga Rp57.764.245.

Sementara itu, di kamp pengungsi Nuseirat, Gaza tengah, peternak lebah Fahd al-Dahdouh, 32 tahun, menghabiskan hari-harinya dengan memperbaiki kotak sarang lebah yang sudah rusak, yang ditemukan di area pertanian yang telah hancur.

"Saya mengumpulkan sarang lebah ini, seperti yang Anda lihat, saya membawanya dan menyusunnya," kata Dahdouh. "Saya mengumpulkan tutupnya, kotaknya, dan bahkan lantainya." tutupnya.

 
 
Sumber rujukan diadaptasi dari laporan Reuters, yang berjudul: "With fields destroyed and hives lost, Gaza's beekeepers struggle to start over" dituliskan oleh Ebrahim Hajjaj, Dawoud Abu Alkas, dan Nidal Al-Mughrabi.

Related News