Indonesia-India Bahas Penguatan Hubungan Dagang Ekspor-Impor
Jagad Tani - Menteri Perdagangan RI Budi Santoso dan Menteri Perdagangan dan Industri India, Piyush Goyal bertemu di Jaipur India, pada Jumat, (7/8), guna membahas penguatan hubungan dagang melalui percepatan kerja sama perdagangan, peningkatan akses pasar, dan penguatan investasi antara kedua negara.
Pada saat ini, ekspor Indonesia ke India meliputi minyak sawit, baja nirkarat, batu bara, asam lemak monokarboksilat industri, dan korundum buatan. Adapun impor Indonesia dari India yakni daging kerbau, kacang tanah, kendaraan pengangkut barang, suku cadang dan aksesori traktor, dan tembakau mentah.
Baca juga: Minyak Akar Wangi, Komoditas Unggulan dari Garut
India menjadi negara tujuan ekspor nonmigas terbesar ketiga sekaligus sumber impor terbesar kesepuluh bagi Indonesia. Pada Januari-Juni 2026, total perdagangan kedua negara mencapai USD 11,89 miliar dengan ekspor Indonesia sebesar USD 9,28 miliar dan impornya sebesar USD 2,60 miliar, bahkan Indonesia mencatatkan surplus neraca dagang sebesar USD 6,68 miliar dengan India.
Sementara itu, pada tahun 2025, total perdagangan kedua negara mencapai USD 23,13 miliar, dengan ekspor Indonesia tercatat sebesar USD 18,30 miliar dan impornya sebesar USD 4,84 miliar, sehingga Indonesia mencatatkan surplus sebesar USD 13,46 miliar.
Menurut Budi Santoso (Busan), Indonesia memandang India sebagai mitra dagang penting di kawasan Asia Selatan, dan memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Penguatan kerja sama dagang akan memberi manfaat bagi pelaku usaha kedua negara, serta memperkuat ketahanan rantai pasok regional.
“Untuk terus memperkuat hubungan dagang Indonesia dan India melalui kerja sama yang lebih erat, baik pada tingkat bilateral maupun dalam kerangka ASEAN–India. Indonesia mendukung terciptanya perdagangan yang semakin terbuka, fasilitatif, dan saling menguntungkan,” ujar Busan.
Bahkan keduanya membahas pelaksanaan Working Group on Trade and Investment (WGTI) Indonesia dan India. WGTI merupakan forum tahunan yang menjadi wadah pembahasan isu perdagangan dan investasi bilateral pada tingkat teknis.
Lebih jauh dikatakan, Indonesia memberikan dukungan terhadap India sebagai tuan rumah penyelenggaraan WGTI kedua tahun 2026, sebagai tindak lanjut dari Pernyataan Bersama para pemimpin Indonesia dan India saat kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Jakarta pada 7 Juli 2026 lalu.
Selain itu, juga dibahas perkembangan reviu ASEAN–India Trade in Goods Agreement (AITIGA), dan Indonesia kembali memberi dukungannya terhadap target penyelesaian perundingan pada 2026 dengan tetap mengedepankan hasil yang business-friendly, agar mampu memfasilitasi perdagangan secara lebih efektif.
Dilanjutkan bahwa, Indonesia berkomitmen memenuhi target liberalisasi akses pasar sebesar 80% sesuai kesepakatan di perundingan AITIGA Review. Angka tersebut meningkat jika dibandingkan tingkat liberalisasi Indonesia saat ini yang mencapai 41,9%. Hingga Juli 2026, Indonesia sudah menyampaikan penawaran akses pasar secara bertahap yang mencakup sekitar 57% dari target tersebut.
“Indonesia mendukung penyelesaian AITIGA Review pada tahun ini. Namun, kami juga memerlukan waktu untuk menyelesaikan konsultasi intensif dengan para pemangku kepentingan dalam negeri agar hasil perundingan benar-benar memberikan manfaat optimal bagi pelaku usaha,” kata Mendag Busan.
Bahkan Pemerintah India memberi tanggapan positif atas usulan pembentukan Indonesia–India Preferential Trade Agreement (ID–IN PTA). Menurut Busan, perjanjian dagang ini bakal melengkapi AITIGA untuk penyediaan akses pasar yang lebih luas, mengurangi hambatan nontarif, dan memperkuat fasilitasi perdagangan.
Pembahasan teknis mengenai ID–IN PTA diharapakan bisa segera dimulai setelah Review AITIGA yang ditargetkan pada Oktober 2026. Busan juga menegaskan komitmennya untuk terus bekerja sama dengan India dalam mewujudkan kemitraan ekonomi yang lebih komprehensif dan saling menguntungkan.
Sementara itu, Piyush menanggapi usulan tersebut, dan menyambut baik inisiatif Indonesia untuk pembentukan ID–IN PTA. Ia mengusulkan agar pembahasan PTA diluncurkan melalui forum bilateral tingkat menteri setelah proses review AITIGA mencapai kemajuan yang substansial.
"PTA akan menjadi langkah strategis untuk memperluas akses pasar, meningkatkan perdagangan yang lebih berimbang, serta memberikan kepastian yang lebih besar bagi pelaku usaha kedua negara," ujarnya.
Selain itu, Piyush juga mengusulkan, agar Indonesia dan India segera mengaktifkan kembali WGTI serta Trade Ministers' Forum yang telah lama tidak diselenggarakan. Dikarenakan kedua forum tersebut bisa menjadi wadah untuk melihat peluang dagang, menyelesaikan hambatan nontarif, serta mempersiapkan pertemuan antarpelaku usaha melalui delegasi bisnis kedua negara.

