Inovasi Nutrasetika Bahan Lokal untuk Pakan Ternak
Jagad Tani - Berbagai sumber daya lokal dari tumbuhan liar yang sering dianggap gulma, ataupun limbah hasil panen yang selama ini kurang dimanfaatkan, ternyata menyimpan potensi besar untuk diolah menjadi bahan pakan, dan bernilai tambah dalam mendukung ketahanan pakan peternakan Indonesia.
Dini Dwi Ludfiani, selaku Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Peternakan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam seminar bertajuk Transformasi Bahan Pakan Lokal Menjadi Produk Bernilai Tambah di Industri Peternakan, Senin (3/8), mengungkapkan soal potensi besar pengembangan biodiversitas Indonesia menjadi nutrasetika bagi ternak.
Baca juga: Varietas Gamaba, Bawang Merah Unggulan Dataran Rendah
Menurutnya, konsep nutrasetika merupakan perpaduan antara nutrisi dan farmasetika. Hal ini dimaksudkan, bahwasanya bahan alami tidak hanya berperan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi ternak, tetapi juga membuka peluang inovasi yang mampu meningkatkan kesehatan dan produktivitas ternak.
Lebih jauh dijelaskan, dalam dunia peternakan, nutrasetika bisa dimanfaatkan sebagai aditif pakan alami untuk mendukung kesejahteraan ternak, dan menjadi alternatif pengganti antibiotik yang selama ini masih banyak digunakan.
“Pemanfaatan nutrasetika dinilai memiliki manfaat yang luas. Selain mampu meningkatkan kesehatan saluran pencernaan, daya tahan tubuh, serta produktivitas ternak, pendekatan ini juga dapat menekan biaya produksi karena memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia melimpah," ujarnya.
Di sisi lain, Dini menerangkan, penggunaan bahan alami juga mendukung sistem peternakan yang lebih ramah lingkungan melalui pengurangan emisi karbon dan pemanfaatan limbah pertanian maupun perkebunan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Kekayaan hayati Indonesia sebagai sumber nutrasetika, tentunya sangat beragam, mulai dari rempah-rempah seperti cengkeh dan kayu manis, tanaman herbal, vegetasi bawah perkebunan, tanaman paku, hingga limbah nanas.
Bahkan bungkil kopra, jelas Dini, turut mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi meningkatkan kesehatan dan performa ternak. Selain itu, hasil samping industri perkebunan yang sebelumnya dipandang sebagai limbah juga dapat diolah menjadi bahan pakan bernilai ekonomi tinggi.
“Lebih jauh, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan prebiotik, probiotik, sinbiotik, tanin, bromelain, hingga asam lemak dari sumber daya lokal mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pakan, memperbaiki kesehatan saluran pencernaan, meningkatkan produksi susu maupun daging," terangnya.
Bukan hanya itu, hal ini juga dapat membantu menurunkan emisi metana pada ternak ruminansia. "Pendekatan tersebut membuka peluang untuk menghasilkan sistem peternakan yang lebih produktif sekaligus berkelanjutan,” imbuhnya.
Ditambahkan jika pengembangan nutrasetika bukan hanya berhenti pada penemuan senyawa bioaktif saja, karena tantangan berikutnya ialah melakukan eksplorasi biodiversitas Indonesia yang lebih luas.
Hal itu bisa dilakukan dengan memahami mekanisme kerja senyawa tersebut melalui pendekatan mikrobioma dan metabolomik, dan pengembangan pakan alternatif inovatif yang tidak bersaing dengan kebutuhan pangan manusia.
Tentunya upaya tersebut harus didukung melalui kolaborasi antara peneliti, perguruan tinggi, industri, pemerintah, hingga petani dan peternak, supaya hasil riset dapat diimplementasikan di lapangan, serta memberikan manfaat yang bisa dirasakan oleh peternak.
“Lebih dari itu, pemanfaatan nutrasetika berbasis sumber daya lokal dapat memperkuat ketahanan pangan nasional, mengurangi ketergantungan terhadap bahan pakan impor, serta mendorong terciptanya ekonomi sirkular yang berkelanjutan bagi sektor peternakan Indonesia,” tukas Dini.

