• 5 August 2026

80.000 Bibit Kelapa Natuna Meluncur ke Bintan

uploads/news/2026/08/80-000-bibit-kelapa-natuna-64529db694fb2ed.jpeg

Jagad Tani - Dikenal karena memiliki daging buah yang tebal serta produktivitasnya yang tinggi, membuat bibit kelapa unggul asal Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau kini mulai dilirik oleh pelaku usaha untuk dikembangkan sebagai sumber bibit perkebunan.

Bukan cuma itu, bahkan bibitnya dipasok ke berbagai wilayah untuk mendukung peningkatan produksi kelapa nasional. Bahkan baru-baru ini ada sebanyak 80.000 butir bibit kelapa asal Natuna dikirim ke Lobam, Kabupaten Bintan, dengan menggunakan KLM Sukses Bersama 88.

Baca juga: Warga Lapas Kelas IIB Tabanan Produktif Beternak

Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kepulauan Riau (Karantina Kepri), yakni Hasim mengatakan bahwa pengiriman tersebut merupakan yang ketiga di sepanjang tahun 2026.

"Berdasarkan data aplikasi Best Trust, terdapat permohonan pengiriman sebanyak 80.000 butir bibit kelapa. Kami memastikan seluruh tahapan pemeriksaan berjalan sesuai prosedur agar bibit yang dikirim aman dan sehat," jelas Hasim dalam laporan pers-nya, Selasa (4/8).

Dijelaskan oleh Hasim, pemeriksaan yang dilakukan sesuai amanat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan. Guna memastikan bibit bebas dari Sexava nubila, organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) kategori A2 yang berpotensi menyebar ke daerah lain melalui media pembawa tanaman.

Selain itu, lanjutnya, petugas juga memastikan bibit terbebas dari penyakit layu kelapa yang disebabkan oleh cendawan maupun bakteri, dan hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa seluruh bibit sudah memenuhi persyaratan karantina untuk dilalulintaskan.

Bibit kelapa ini dinilai, termasuk media pembawa berisiko tinggi karena merupakan tanaman tahunan. Proses pembibitan hingga siap tanam membutuhkan waktu sekitar sembilan hingga 12 bulan, sementara tanaman baru mulai berproduksi setelah beberapa tahun.

"Dari bibit siap tanam hingga menghasilkan buah memerlukan waktu yang panjang. Karena itu kami mengawal setiap proses pengiriman agar bibit yang diterima di daerah tujuan dapat tumbuh dengan baik dan tidak membawa penyakit tanaman," jelasnya.

Peningkatan permintaan bibit kelapa ini menunjukkan potensi baru bagi perekonomian Natuna, sekaligus mendorong berkembangnya sentra pembibitan, dan meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa nasional. Pada saat ini, harga bibit kelapa jambul di Natuna berada kisaran harga Rp3.000 per butir. 

Selama ini daerah tersebut memang lebih dikenal sebagai penghasil komoditas perikanan. Akan tetapi, melalui pengembangan usaha pembibitan kelapa ini, justru membuka peluang usaha baru bagi masyarakat Natuna, sekaligus mendukung pengembangan perkebunan kelapa di berbagai daerah.

Sementara itu,  Abdul Kadir Karding, selaku Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) menjelaskan bahwa pihaknya selama ini tidak hanya berfungsi dalam melindungi sumber daya hayati dari ancaman hama dan penyakit saja, tetapi juga sebagai economic tools yang mendukung percepatan ekspor nasional.

"Kami memastikan seluruh proses sertifikasi karantina berjalan cepat, transparan, akuntabel, dan bebas dari segala bentuk pungutan liar. Barantin siap menjadi mitra strategis bagi para eksportir untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di tingkat global," tegasnya.

Related News