Lahan Tidur Disulap Menjadi Ketahanan Pangan Desa
Jagad Tani - Di Dukuh Ngemplak, Desa Gesikan, Kecamatan Gantiwarno, Klaten, sebuah lahan tidur yang semulanya kosong, kini disulap menjadi ruang produktif oleh warganya. Hal ini bisa terjadi berkat inisiatif, dan kesadaran yang dibangun melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Kamulyan.
“Awal mula terbentuknya KWT Ngudi Kamulyan, dulunya itu (karena) ada lahan kosong. Nah, ternyata dipikir-pikir kok bisa bermanfaat untuk dijadikan lahan," ungkap Yulianto, selaku penasehat KWT.
Baca juga: Berkenalan dengan Ayam Kuntara
Mulanya, kata Yuli, dana yang menjadi modal awal untuk pengembangan lahan kosong itu berasal dari dana sumbangan para anggota, serta dana dari hasil donasi warga yang memang tidak bisa ikut berpartisipasi secara langsung.
Melihat potensi dan kesungguhan warga setempat dalam mengelola lahan pertanian, pemerintah desa turut memberikan respon positif. Untuk dana pengelolaan kegiatan pertanian, menurut Yuli, akhirnya berhasil mendapatkan perhatian dari pihak pemerintah desa.
Hal ini tentu dilakukan demi mendukung keberlanjutan dari KWT Ngudi Kamulyan. Melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) akhirnya kebutuhan vital kelompok dialokasikan lewat dana desa, yakni meliputi peralatan pertanian, serta pembuatan saluran air, guna menunjang aktivitas penyiraman tanaman.
Lebih lanjut, Yuli menerangkan, berhubung dari pihak desa turut mengimbau warga dalam menggunakan dan memanfaatkan lahan-lahan kosong atau lahan tertidur, sehingga bisa digunakan untuk produktivitas, serta menjadi nilai tambah ekonomi keluarga bagi anggota.
"Makanya kami berinisiatif untuk mengajak Ibu-ibu untuk merintis maupun (memanfaatkan) penggunaan tanah kosong (yang) digunakan untuk istilahnya (menanam) tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan, dan ikut serta (dalam) mengikuti program pemerintah," sambungnya.
Semenjak tahun 2023, banyak ibu-ibu rumah tangga turut mengelola lahan pertanian, yang ditanami komoditas sayur dan buah. Selain digunakan untuk menambah pundi-pundi rupiah, hasilnya juga dimanfaatkan dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Sementara itu, pengelolaan lahan kelompok tani inipun hingga kini terus berkembang, dari yang awalnya hanya seluas 300 meter persegi kini telah mencapai 500 meter persegi.
Lahan inipun dioptimalkan lewat berbagai tanaman pangan, dengan komoditas utama seperti cabai, terong, tomat, dan kacang panjang. Selain itu, juga ditanami juga tanaman buah seperti pepaya dan pisang.
Bukan cuma itu saja, pada saat ini KWT Ngudi Kamulyan bahkan sudah memiliki kas mandiri kelompoknya sendiri, yang dimanfaatkan untuk menjamin keberlanjutan dari program-program pertaniannya.
“Harapan(nya), semoga program yang sudah berjalan ini bisa berlanjut. Mudah-mudahan, nanti yang generasi muda juga bisa (ikut) bergabung, (untuk) melanjutkan program-program KWT ini, dan kami punya harapan, semoga di desa ini untuk RT maupun RW lain(nya), itu bisa meniru program (pertanian) yang sudah berjalan di sini,” pungkas Yuli.

