Harga Ayam di Kota Bandung Alami Kenaikan
Jagad Tani - Berdasarkan hasil pemantauan harga di Pasar Cijerah dan Pasar Cihapit, oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, harga ayam potong dan timun mengalami kenaikan signifikan, adapun untuk komoditas lainnya relatif stabil.
Menurut Farhan,dua pasar yang dipantau tersebut memiliki karakteristik konsumen yang berbeda. Pasar Cijerah melayani kawasan permukiman padat di wilayah barat Kota Bandung, sedangkan Pasar Cihapit berada di kawasan dengan tingkat ekonomi masyarakat yang relatif lebih tinggi.
Baca juga: Strategi Atasi Fluktuasi Harga Saat El-Nino Disiapkan
“Barang yang dijual sebenarnya sama, hanya memang ada sedikit perbedaan harga. Di Pasar Cihapit rata-rata sekitar 10 persen lebih mahal dibandingkan Pasar Cijerah karena karakter konsumennya berbeda,” ujar Farhan dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (3/8).
Secara umum, Farhan menilai jika pasokan pangan di Kota Bandung masih dalam kondisi yang aman, dan tidak ditemukan komoditas yang mengalami kelangkaan meskipun ada dua komoditas yang mengalami lonjakan harga.
Jika sebelumnya harga timun berkisar Rp10.000 per kilogram, kini mengalami peningkatan yang hampir dua kali lipat, sedangkan harga ayam potong naik hingga kisaran Rp40.000 hingga mendekati Rp50.000 per kilogram.
Kenaikan harga ayam dinilai, karena meningkatnya permintaan selama musim liburan dan tingginya aktivitas wisata di Kota Bandung. “Kalau ayam suplai dari daerah sebenarnya masih aman. Yang meningkat adalah permintaannya terutama saat masa liburan. Jadi itu yang mendorong harga naik,” terangnya.
Selain itu, disebutkan juga bahwa komoditas sayuran masih dalam kondisi baik karena sedang memasuki masa panen, untuk pasokan beras hingga akhir tahun, dinilai tetap terjaga seiring siklus panen yang diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September.
Demi menjaga stabilitas harga, pihaknya bersama Bulog akan memperkuat pasokan beras dan minyak goreng melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), dan Bulog ditargetkan akan memasok sedikitnya 30% kebutuhan beras dan minyak goreng di Kota Bandung. Adapun untuk mencegah praktik penimbunan barang, Satgas Pangan akan memperketat pengawasan.
“Kalau sewaktu-waktu kebutuhan meningkat, pasokan dari Bulog bisa segera masuk sehingga harga lebih mudah dikendalikan. Saya pastikan Satgas Pangan terus mengawasi. Tidak boleh ada penimbunan karena itu berpotensi melanggar hukum pidana,” tegasnya.
Berdasarkan laporan dari pasar induk Kota Bandung seperti Caringin, Gedebage dan Ciroyom, distribusi bahan pangan masih berjalan lancar. Selain itu Farhan mengingatkan jika Kota Bandung merupakan wilayah konsumen, dan sangat bergantung pada pasokan dari luar wilayah, bahkan saat ini, kebutuhan pangan daerah masih dipenuhi oleh sekitar 16 provinsi di Indonesia.
“Setiap hari barang selalu masuk. Selama tidak ada laporan pasokan terhenti selama beberapa hari, artinya kondisi masih aman. Kita bukan produsen soalnya. 16 provinsi menyuplai bahan makanan ke Kota Bandung,” tukasnya.

