Beras Fortifikasi Tembus Rp42.000/Kg, Amran Terperanjat Kaget
Jagad Tani - Saat ada temuan harga beras fortifikasi menyentuh lebih dari Rp 40.000 per kg, Andi Amran Sulaiman selaku Menteri Pertanian (Mentan) terperanjat kaget, karena produk beras tersebut dapat dipergunakan untuk membantu masyarakat Indonesia yang mengalami kekurangan gIzi Atau Tengkes (Stunting).
"Lha ini ada yang dijual Rp20.000 sampai Rp 42.000. Ini kan bisa diperuntukkan untuk saudara kita yang ada stunting. Stunting kita berapa? 21%, diperuntukkan untuk ini. Ini betul-betul seenaknya. Nanti Satgas Pangan kerja (untuk penindakan)," ucap Amran saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (30/7).
Baca juga: Delegasi Tiongkok Bakal Investasi di Bidang Hortikultura
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi. Fortifikasi pangan jadi strategi perbaikan status gizi masyarakat, dan beras fortifikasi jadi indikator prioritas pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2025–2029.
Beras fortifikasi merupakan beras sosoh yang ditambahkan dengan kernel beras fortifikan dengan tujuan untuk mendapatkan komposisi zat gizi tertentu, dan wajib memenuhi persyaratan jenis serta kandungan gizi sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) 9372:2025.
"Ini yang menarik. Ini (beras fortifikasi) harus bisa untuk saudara kita yang kekurangan gizi, untuk orang miskin, yang kekurangan gizi, dan yang stunting," terang Amran.
Pada tahun 2026, Bapanas akan menyalurkan bantuan pangan beras terfortifikasi dan biofortifikasi, targetnya menyasar ke 960 Kepala Keluarga (KK) dengan beras khusus 15 kg selama 3 kali penyaluran, totalnya akan ada 2.880 paket bantuan pangan beras terfortifikasi dan biofortifikasi yang disalurkan.
Program bantuan pangan beras terfortifikasi dan biofortifikasi ini telah diinisiasi sejak tahun 2025, dan berkolaborasi bersama segenap mitra, pada tahun 2025 telah tercapai sasaran penerima sebanyak 648 KK. Kala itu, setiap KK diberikan beras terfortifikasi dan biofortifikasi sebanyak 15 kg sebanyak 3 kali.
Lalu diberikan 3 kali lagi melalui dukungan Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) Indonesia. Mitra lain yang turut mendukung program bantuan pangan beras terfortifikasi dan biofortifikasi sejak tahun 2025 antara lain Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) dan Dompet Dhuafa.
Melalui program rintisan itu, total beras khusus sebanyak 29.160 kg disalurkan kepada 648 KK selama 3 bulan, sehingga sejumlah 1.944 paket bantuan yang berhasil didistribusikan ke keluarga berisiko stunting di wilayah rentan rawan pangan.
Adapun beras yang disalurkan pun dipastikan memiliki kandungan mikronutrien seperti vitamin A, B1, B2, B3, B6, B12, asam folat, dan juga mineral seperti zat besi dan zinc, yang berguna untuk meningkatkan nilai gizi bagi masyarakat rentan gizi, terutama ibu hamil, anak di bawah usia dua tahun, dan di bawah usia lima tahun.
Saat ini, jumlah daerah rentan rawan pangan menurun menjadi 81 kabupaten/kota atau 15,76%. Adapun latar belakang digagasnya program bantuan pangan beras terfortifikasi dan biofortifikasi karena Indonesia masih menghadapi beban gizi ganda atau triple burden of malnutrition seperti stunting, obesitas, dan kekurangan zat gizi mikro.

