• 24 July 2026

Masa Depan Kakao Indonesia, Bergantung Pada Kolaborasi

uploads/news/2026/07/masa-depan-kakao-indonesia--585875121b07d2a.jpg

Jagad Tani - Masa depan industri kakao Indonesia dan ekosistem di dalamnya, sangat bergantung pada kolaborasi antara petani kakao, pelaku usaha, institusi finansial, akademisi, pemerintah, hingga mitra internasional.

Hal tersebut diungkapkan oleh Budi Santoso, selaku Menteri Perdagangan (Mendag) saat menjadi pembicara kunci dalam konferensi kakao internasional, yaitu The 9th Indonesia International Cocoa Conference (IICC), Kamis (23/7) di Yogyakarta.

Baca juga: Pantauan Harga Bawang Putih Pasar Kramat Jati

“Sebagai produk ekspor strategis Indonesia dengan potensi nilai tambah signifikan, masa depan kakao bergantung pada kolaborasi para pemangku kepentingan,” ungkap Busan.

Dilanjutkan bahwa visi Indonesia, yakni menjadi hub global bagi produk kakao dan coklat premium yang berkelanjutan dan bernilai tambah. Sehingga dapat menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi perdesaan, demi kelangsungan hidup ratusan ribu keluarga petani. 

Dalam lima tahun terakhir, kinerja ekspor kakao Indonesia alami perkembangan, bahkan nilai ekspor Indonesia tahun 2025 sebesar USD 3,60 miliar, naik tiga kali lipat bila dibandingkan dengan 2021 yang sebesar USD 1,2 miliar.

Capaian di atas menunjukkan kuatnya permintaan global terhadap kakao, termasuk dari Indonesia. Melalui Organisasi Kakao Internasional (ICCO) Indonesia pun dikenal sebagai penghasil kakao premium, yaitu kakao mulia (fine flavour cocoa).

“Oleh karena itu, strategi ekspor Indonesia harus terus fokus pada peningkatan nilai tambah, pemenuhan standar internasional, diversifikasi pasar ekspor, dan maksimalisasi pemanfaatan perjanjian perdagangan internasional yang dimiliki Indonesia,” sambungnya.

Dalam perjanjian dagang internasional, saat ini Indonesia telah mengimplementasikan 25 perjanjian dagang dengan negara-negara mitra dan 2-nya lagi, dalam proses ratifikasi.

Sementara itu, ada 11 perjanjian dagang yang sedang dalam tahap perundingan, termasuk perundingan dengan Uni Eropa (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement) yang sedang menunggu penandatanganan.

Selain itu, Indonesia juga tengah mendorong negosiasi tarif resiprokal dengan Amerika Serikat (Indonesia-United States Agreement on Reciprocal Trade). Kedua perjanjian tersebut dinilai akan semakin membuka akses pasar bagi kakao Indonesia. 

Sementara itu, Direktur Eksekutif International Cocoa Organization (ICCO), Michel Arrion, mengatakan, konferensi kakao jadi momentum penting untuk melihat perkembangan Indonesia di sektor kakao, dari yang awalnya merupakan produsen hingga menjadi pengolah kakao.

“Indonesia memberikan banyak nilai tambah terhadap biji kakao untuk kepentingan industri cokelat. Kami yakin Indonesia akan semakin memperoleh banyak manfaat jika semakin meningkatkan produksi biji kakaonya,” tukas Michel.

Related News