• 21 July 2026

Masuki Puncak Kemarau, Petani Diimbau Tetap Tenang

uploads/news/2026/07/masuki-puncak-kemarau-petani-2927121199bbba3.jpeg

Jagad Tani - Berdasarkan prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Indonesia bakal menghadapi masa puncak musim kemarau pada bulan Juli-September 2026.

Sebetulnya, prediksi terkait adanya El Nino ini sudah beredar sejak beberapa bulan lalu, sehingga berbagai langkah mitigasi berupa penguatan stok Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) menjadi hal yang dipersiapkan.

Baca juga: Antisipasi Kemarau Panjang, Batang Siagakan Pasokan Air

Sebelumnya, pada 10 Juni lalu, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, melalui siaran pers-nya memaparkan, jika puncak kemarau bulan Juli mencakup 83 Zona Musim (ZOM) atau 12,26% luas daratan Indonesia.

Sementara itu, puncak kemarau terjadi di 369 ZOM (48,84% luas daratan) pada bulan Agustus dan sebanyak 169 ZOM (25,41% luas daratan) bakal terjadi pada bulan September.

“Pada bulan Agustus 2026, puncak musim kemarau terjadi di Sumatra bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, serta sebagian besar Pulau Papua," ucap Faisal. 

Demi menghadapi hal tersebut, Andi Amran Sulaiman selaku Menteri Pertanian (Mentan) mengimbau agar masyarakat bisa tetap bersikap tenang dalam menghadapi musim kemarau. 

"Tidak usah khawatir. El Nino yang dulu lebih dahsyat daripada sekarang. Kemarin katanya bulan empat, tapi banjir. Bulan lima, bulan enam, banjir. Bulan tujuh juga masih ada banjir. Nah, bulan delapan katanya lagi," jelas Amran melalui siaran langsung di laman official Kementan RI, dikutip Selasa (21/7).

Bukan cuma itu, guna menghadapi musim kemarau, baik itu pompa dan irpom (irigasi perpompaan), bagi petani Jawa Tengah agar tidak kekurangan air, setidaknya menurut Amran, sudah dibagikan 2.000 pompa, dan akan ditambah lagi sebanyak 5000 pompa.

Di tengah ancaman potensi musim kemarau panjang, Amran menilai, bahwa melalui laporan data Badan Pangan Nasional (Bapanas), stok CPP dalam bentuk beras yang ada di Perum Bulog berada di angka 5,24 juta ton per 20 Juli.

Sementara untuk Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) tingkat provinsi tercatat total 7,35 ribu ton per akhir Juni lalu. Untuk CPPD tingkat kabupaten/kota total ada 13,15 ribu ton yang tersebar di 323 daerah.

Di samping itu, stok CPP dalam bentuk jagung pakan per 20 Juli masih terdapat sebanyak 176 ribu ton. Stok jagung pakan ini terus disalurkan kepada peternak unggas melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dengan harga yang lebih ekonomis.

Selanjutnya, stok CPP dalam bentuk minyak goreng 1 ribu kiloliter yang dikelola Perum Bulog dan ID Food. CPP gula konsumsi masih ada sekitar 2,79 ribu ton yang juga ada di Bulog dan ID Food. CPP dalam bentuk daging ayam ada 38 ton di ID Food.

Khusus untuk komoditas yang sifatnya perishable atau mudah membusuk atau mudah rusak, seperti cabai, bawang merah, dan telur ayam ras, optimis mampu ditopang dari produksi pangan dalam negeri secara reguler, karena adanya surplus produksi terhadap kebutuhan konsumsi yang cukup tinggi selama setahun ini.

"Pokoknya begini, bagaimana terpenuhi kebutuhan (irigasi pertanian buat para petani). Karena ada air ada kehidupan, padi sekarang alhamdulillah," ungkapnya. 

Untuk kondisi pangan Indonesia terkini telah dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Indeks Perkembangan Harga (IPH) yang masih cukup baik. Adapun sampai minggu ketiga Juli 2026, hanya 4 provinsi yang mengalami kenaikan IPH dan 34 provinsi mengalami penurunan IPH.

IPH secara kabupaten/kota pun demikian. Sampai minggu ketiga Juli, BPS melaporkan 69 kabupaten/kota dengan kenaikan IPH, sementara sebanyak 283 kabupaten/kota mengalami penurunan IPH.

Berdasarkan laporan terbaru dari Food and Agriculture Organization (FAO) yang mengangkat tentang proyeksi produksi beras Indonesia yang akan semakin meningkat di tahun 2026.

"Ini FAO, dunia mengakui kita. Tadi aku lihat Malaysia itu ribut sekarang, kesulitan beras. Dia impor kalau tidak salah, 40 apa 60%. Tapi Indonesia, kita nomor dua tertinggi dunia sekarang. Baru diumumkan, FAO mengumumkan tahun 2026 Indonesia bisa mencapai produksi 38 juta ton," pungkasnya.

Melalui dokumen Food Outlook edisi Juni 2026, FAO menempatkan Indonesia sebagai negara produsen beras tertinggi di Asia Tenggara dan juga menjadi tertinggi keempat dunia setelah India, Tiongkok, dan Bangladesh.

Dari 4 besar negara dunia tersebut, hanya Tiongkok dan Indonesia yang diproyeksikan bakal mengalami perkembangan produksi beras yang positif.

Bahkan jika merujuk The FAO All Price Rice Index (FARPI), indeks pada Juni 2026 meningkat 3,2% dibandingkan bulan sebelumnya. FARPI Juni 2026 tersebut menjadi indeks yang tertinggi sejak Januari 2025 atau dalam 1,5 tahun terakhir.

Related News