Harga Jatuh, Peternak Solo Raya Gelar Aksi
Jagad Tani - Akibat dari anjloknya harga telur dan daging ayam beberapa waktu terakhir, setidaknya ada ratusan orang dari gabungan peternak di Solo Raya menggelar aksi bagi-bagi telur di perempatan Gladak Solo, Jawa Tengah, Selasa (7/7).
Di tengah aksi damai yang membagi-bagikan telur dan ayam hidup ini, salah seorang peternak bahkan melakukan aksi mandi telur sebagai bentuk protes.
Baca juga: Halal Expo Indonesia Bangun Integrasi Ekonomi Islam
Menurut Chris Handrika Imanuel Raharjo selaku Koordinator Lapangan sekaligus Ketua Peternak Boyolali Bersatu sebagaimana dikutip dari keterangannya di Antara, mengatakan aksi damai dilakukan sebagai bentuk protes akibat turunnya harga ayam dan telur ayam tingkat peternak, sekaligus naiknya harga pakan.
“Ayam dan telur yang dibagikan ini merupakan sumbangan dari beberapa peternak. Kami membagi ayam dan telur untuk merespon hari-hari ini di mana harga ayam sangat murah,” tuturnya.
Sementara itu, Parjuni selaku Perwakilan Gabungan Peternak Rakyat Solo Raya, mengatakan bahwa melalui aksi ini para peternak ingin menyampaikan aspirasi terkait turunnya harga telur dan daging ayam.
“Para peternak Solo Raya, dari Boyolali, Klaten, Karanganyar, Sukoharjo itu memang berkeinginan menyampaikan aspirasi, di mana memang kondisi saat ini harga ayam maupun telur jatuh serendah-rendahnya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Parjuni mengatakan jika saat ini harga ayam hidup mencapai Rp13.000 per kg, sementata harga telur ayam berada di kisaran harga Rp17.000-18.000 per kg.
“Memang peternak Solo Raya ini sudah dua bulanan ini merugi dan ruginya enggak main-main, sampai ratusan juta juga. Bahkan kalau yang besar saya yakin mencapai angka miliaran lah,” sambungnya.
Ia melanjutkan salah satu hal utama yang diharapkan yakni harga ayam dan telur naik di atas harga pokok produksi (HPP). "HPP yang saat ini ada untuk petelur itu sudah Rp23.000 per kilogram. Jadi harganya harus di atas itu," ucapnya.
Melalui aksi tersebut, Parjuni mengharapkan agar aspirasi peternak dapat diterima, dan pihak pemerintah dapat memperbaiki kebijakannya ke depan, salah satunya yakni terkait regulasi impor GPS (Grand Parent Stock) atau bibit induk ayam tingkat tertinggi yang dinilai berpengaruh besar pada suplai dua tahun ke depan.
“Harapan saya suara ini sampai ke pemerintah, karena memang ini kebijakan pemerintah yang belum tegas diterapkan. Permentan yang mungkin itu harus dijalankan dengan tegas di periode ke depan sehingga kondisi-kondisi ini tidak terjadi lagi,” tegasnya.

