Wisatawan Bandung Melonjak, Dorong Penambahan Pasokan Pangan
Jagaf Tani - Seiring dengan meningkatnya jumlah wisatawan yang datang ke Kota Bandung dalam beberapa bulan terakhir,dinilai akan berdampak pada naiknya permintaan bahan pangan di kembang tersebut.
Menurut Muhammad Farhan, Wali Kota Bandung, lonjakan wisatawan sejak akhir 2025 hingga pertengahan 2026 membawa dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi, di sektor pariwisata, kuliner, dan UMKM, namun turut mendorong peningkatan permintaan bahan pangan.
Baca juga: Diisukan Harga Minyakita Capai Rp22.000/Liter Pasar Palmerah Dicek
"Bandung sejak Desember sampai sekarang jumlah wisatawannya meningkat berlipat-lipat. Alhamdulillah ini menunjukkan ekonomi kita bergerak. Tetapi konsekuensinya adalah permintaan bahan pangan juga meningkat," ungkap Farhan dalam keterangan tertulisnya, dikutip Selasa (23/06).
Lebih lanjut, dijelaskan jika Kota Bandung merupakan kota jasa dan perdagangan yang sangat bergantung pada jumlah pasokan pangan dari daerah lain sehingga keseimbangan suplai dan permintaan menjadi faktor utama stabilitas harga.
Adapun mengenai peningkatan konsumsi dari sektor hotel, restoran, dan pusat kuliner ini menyebabkan tekanan pada harga berbagai komoditas di pasar yang juga digunakan oleh masyarakat umum.
"Restoran membeli di pasar yang sama dengan masyarakat. Ketika permintaan meningkat, harga otomatis ikut naik. Dampaknya dirasakan oleh seluruh warga Kota Bandung," jelasnya.
Sehingga pengendalian inflasi di Kota Bandung, dinilai akan difokuskan pada kelancaran distribusi pangan melalui dua pasar induk utama, yakni Gedebage dan Caringin, yang memasok komoditas dari sedikitnya 16 provinsi di Indonesia. Selain itu, Bulog turut berperan dalam menjaga stabilitas pasokan beras, minyak goreng, gula, dan terigu di wilayah itu.
"Meskipun distribusi masih berjalan baik, pemerintah tetap memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak termasuk pemerintah pusat dan daerah pemasok untuk menjaga kestabilan harga," sambungnya.
Selain itu, perubahan iklim menjadi tantangan tambahan dalam menjaga ketersediaan pangan, terutama pada komoditas sayuran yang sangat sensitif terhadap cuaca. Menurutnya, stok beras masih relatif aman karena Bulog memiliki cadangan yang cukup, termasuk melalui program Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
"Terdapat tiga kategori beras di pasaran, yakni SPHP, premium, dan beras khusus, dengan tekanan permintaan terbesar terjadi pada beras premium," ujar Farhan.
Mantan presenter tv dan penyiar radio nasional ini juga menyoroti potensi spekulasi harga melalui praktik penimbunan yang dapat mengganggu stabilitas pasar.
"Secara statistik beras tersedia. Yang sering bermasalah itu beras premium karena permintaannya paling tinggi. Pengawasan terhadap praktik tersebut akan terus diperkuat untuk melindungi masyarakat dari kenaikan harga yang tidak wajar," tandasnya.

