Indonesia Lumbung Beras ASEAN dan Keempat Dunia
Jagad Tani - Merujuk data Badan Pangan dan Pertanian Dunia atau Food and Agriculture Organization (FAO) Indonesia menempati posisi sebagai negara produsen beras tertinggi di Asia Tenggara. Negara tetangga yang jadi urutan kedua jatuh ke Vietnam dan ketiga Thailand.
Kondisi tersebut turut memperkuat ketersediaan pangan nasional yang tercermin pada jumlah peningkatan produksi beras pada tahun 2025, sehigga menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan produksi beras tertinggi di dunia.
Baca juga: Indonesia dan Sejumlah Negara Catatkan Peningkatan Produksi Beras
Pada skala global, produksi beras Indonesia berada di urutan keempat dunia setelah India, Tiongkok, dan Bangladesh. Namun dari keempat negara tersebut, hanya Tiongkok dan Indonesia yang diproyeksikan akan mengalami perkembangan produksi beras yang positif.
Berdasarkan angka perkiraan produksi beras pada periode 2025/2026 dan 2024/2025, peningkatan produksinya mengalami deviasi lebih dari 4 juta ton. Bila dibandingkan peningkatan produksi beras India yang 1,7 juta ton, Brasil 1,5 juta ton, dan Bangladesh 1,1 juta ton.
Bahkan melalui data dari Badan Pusat Statistik (BPS) produksi beras nasional pada tahun 2025 mencapai sekitar 34,69 juta ton, meningkat 4 juta ton atau 13,2% dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 30,62 juta ton.
“Ini merupakan capaian luar biasa. Kerja keras petani bergerak bersama, hasilnya dapat dirasakan secara nyata oleh seluruh masyarakat,” ujar Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman di Pekan Nasional (PENAS) XVII Petani dan Nelayan Tahun 2026 di Gorontalo, Sabtu (20/06) lalu.
Kenaikan produksi tersebut menjadi fondasi penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri, karena semakin terjaganya pasokan pangan di berbagai daerah.
“Tidak mungkin capaian ini terjadi tanpa kerja keras petani dan nelayan Indonesia. Mereka adalah pahlawan pangan yang memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi setiap hari,” sambungnya.
Sementara itu, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog saat ini mencapai sekitar 5,2 juta ton, adapun kebijakan pembelian gabah petani Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram, dengan Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Mei 2026 tercatat sebesar 127,73.
“Petani dan nelayan adalah garda terdepan dalam kemandirian pangan. Negara tidak boleh bergantung kepada negara lain,” tukas Gibran Rakabuming Raka selaku Wakil Presiden (Wapres) di kesempatan yang sama dengan Amran.

