Indonesia dan Sejumlah Negara Catatkan Peningkatan Produksi Beras
Jagad Tani - Dalam rentang waktu setahun terakhir, Indonesia disebut-sebut menjadi salah satu negara dengan perkembangan angka produksi beras setahun tertinggi bersama Nigeria, Pantai Gading, dan Vietnam.
Dalam laporan Rice Outlook edisi Mei 2026 yang dirilis United States Department of Agriculture (USDA) dilaporkan produksi beras secara global periode 2025-2026 meningkat 1,5 juta ton. Pada Rice Outlook bulan April 541,3 juta ton dan naik menjadi totalnya 542,8 juta ton.
Baca juga: Pertanian Berbasis Teknologi Bisa Jawab Masalah Pesisir
Jika dibandingkan dengan 3 negara tadi, Indonesia memiliki angka total produksi beras yang dalam setahun mampu mencapai lebih dari 30 juta ton. Nigeria berada di angka 5,9 juta ton, Pantai Gading 1,7 juta ton, dan Vietnam 26,2 juta ton.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Produksi Beras dan Padi menurut Provinsi tahun 2025, total produksi beras Indonesia dari 38 Provinsi mencapai 34.690.959 ton. Adapun total stok beras di Perum Bulog sampai 18 Juni 2026 berada di angka 5,2 juta ton.
"Semua gudang kita penuh dengan beras sekarang ini. Stok sekarang 5,2 juta ton. Kemampuan gudang kita 3 juta ton. Kita sudah sewa 2,3 juta ton dan ini tertinggi selama merdeka," ungkap Andi Amran Sulaiman selaku Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) dalam keterangan tertulisnya dikutip Jumat (19/06).
Jumlah stok tersebut bersumber dari pengadaan setara beras produksi dalam negeri sejak awal 2026 yang mencapai 3,18 juta ton, dan ditopang dari stok akhir tahun 2025 sekitar 3,24 juta ton dengan realisasi pengadaan produksi dalam negeri selama 2025 di 3,43 juta ton tanpa ada impor.
"Kalau dulu, stok di Bulog hanya 1 juta ton kemudian harga naik, kesimpulannya impor. Sekarang berbeda. Kita surplus. Kita sudah swasembada," jelasnya.
Sementara itu, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dalam catatan Bapanas, total CBP yang telah disalurkan dalam rentang tahun 2023 sampai 2025 mencapai 7,75 juta ton. Rinciannya selama tahun 2023 di angka 2,76 juta ton.
Kemudian pada tahun 2024 mencapai 3,37 juta ton dan sepanjang tahun 2025 yang tersalurkan 1,62 juta ton. Penyaluran ini ditujukan untuk memberi bantalan ekonomi, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap beras dengan harga yang terjangkau.
Untuk penyaluran stok CBP selama tahun 2025 sendiri, totalnya tercatat sebesar 1,62 juta ton, terdiri dari SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) beras sekitar 802,9 ribu ton, bantuan pangan beras 710,78 ribu ton, golongan anggaran 92,1 ribu ton, dan tanggap darurat 13,16 ribu ton.
Bahkan per 18 Juni, realisasi penyaluran CBP untuk tahun 2026 totalnya sudah mencapai 946,8 ribu ton, yang terdiri dari bantuan pangan beras 550,1 ribu ton, SPHP beras 348,5 ribu ton, golongan anggaran 36,8 ribu ton, dan tanggap darurat 11,3 ribu ton.
Menurut Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa, berbagai program penyaluran itu masih akan dilanjutkan di tahun 2026, dengan mengandalkan penyerapan produksi petani dalam negeri.
"Fokus penyerapan panen petani kita untuk CBP. Ini juga diiringi dengan pelaksanaan program penyaluran ke masyarakat sampai akhir tahun nanti. Tentunya upaya ini harus kontinyu diimplementasikan agar hulu dan hilir selalu terjaga kestabilannya," tukas Ketut.

