Pertanian Berbasis Teknologi Bisa Jawab Masalah Pesisir
Jagad Tani - Wilayah pesisir selama ini menghadapi berbagai tantangan, seperti salinitas tanah yang tinggi, degradasi lahan, hingga dampak perubahan iklim sehingga mempengaruhi kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir terhadap produktivitas pertanian.
Tentu dengan adanya pengembangan teknologi pertanian, wilayah pesisir bisa memiliki peranan dan potensi dalam mendukung produksi pangan nasional.
Baca juga: Kopi Indonesia di Bangkok Raup Potensi Rp66Miliar
Muhammad Agung Sunusi selaku Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, menjelaskan jika untuk menjawab tantangan tersebut maka diperlukan pendekatan berbasis teknologi.
“Untuk menjawab tantangan tersebut diperlukan pendekatan berbasis inovasi melalui pemanfaatan varietas unggul, teknologi budi daya modern, penguatan kelembagaan petani, dan pengembangan sistem produksi berbasis kawasan,” ujarnya sebagaimana tertera dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (18/06).
Agung juga menggarisbawahi jika berbagai tantangan masih membayangi pengembangan komoditas, termasuk cabai dan bawang merah mulai dari perubahan iklim, serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), tingginya biaya produksi, kehilangan hasil pascapanen, hingga belum optimalnya efisiensi rantai distribusi.
Berbagai inovasi teknologi telah diuji untuk mendukung implementasi pendekatan tersebut, di antaranya melalui penggunaan feromon exi, nano-biopestisida, teknologi budi daya terlindungi melalui netting house, hingga sistem irigasi tetes.
Rini Murtiningsih, yang merupakan peneliti Ahli Madya Pusat Riset Hortikultura BRIN, menerangkan jika serangan trips, ulat grayak, lalat bawang, dan berbagai penyakit tanaman masih menjadi tantangan utama bagi petani bawang merah.
“Pendekatan Pengelolaan Hama Terpadu terus dikembangkan melalui kombinasi budi daya tanaman sehat, pemanfaatan musuh alami, pengamatan agroekosistem secara rutin, dan peningkatan kapasitas petani sebagai pelaku utama pengendalian,” terangnya sebagaimana tertera dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (18/06).
Implementasi teknologi netting house yang dilakukan oleh petani di Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, dinilai mampu menunjukkan manfaat ekonomi petani, karena mampu menekan biaya penggunaan pestisida hingga 30-70%.
Sedangkan untuk teknologi irigasi tetes dinilai telah terbukti meningkatkan efisiensi penggunaan air dan pupuk, dan mengurangi kebutuhan pupuk hingga 30% dibandingkan dengan sistem budi daya konvensional.
Sementara itu, kombinasi antara netting house dengan irigasi tetes, ternyata mampu menekan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) sekaligus menjaga produktivitas bawang merah dengan kisaran 12–14 ton per hektare.
Arlyna Budi Pustika, peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), juga memperkenalkan teknologi true shallot seed (TSS) atau benih botani bawang merah, yang memiliki prospek untuk mendukung sistem produksi bawang merah yang lebih sehat, dan efisien.
“Selain mengurangi risiko penyebaran penyakit melalui bahan tanam, TSS juga mempermudah distribusi benih dan membuka peluang pengembangan sistem produksi berbasis benih botani,” tandas Arlyna.

