Setelah Kasus Cs-137, Indonesia Miliki Lab Uji Kontaminasi Radioaktif
Jagad Tani - Setelah diterpa isu adanya kontaminasi Cs-137 pada produk ekspor perikanan Indonesia ke Amerika beberapa bulan lalu, Indonesia terus berbenah, dan kini sudah memiliki laboratorium (Lab) uji kontaminasi radioaktif produk perikanan, di Cipayung, Jakarta Timur.
Adapun Lab Balai Uji Standar Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BUSPM) ini berada di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dan telah terakreditasi ISO 17025.
Baca juga: Bantuan Sarana Prasarana Budidaya Perikanan Denpasar
"Selain itu juga mendapatkan persetujuan BAPETEN selaku Nuclear Supervision Authority, serta memperoleh approval US FDA untuk melakukan uji beberapa parameter radioaktif termasuk Cs-137," ungkap Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan atau Badan Mutu KKP, Ishartini, dikutip Selasa (16/06).
Menurutnya, lab penguji kontaminasi Cs-137 pada produk perikanan ini memang secara khusus dibangun untuk mendukung daya saing dan keberterimaan produk perikanan terutama udang ke berbagai negara utamanya Amerika Serikat (AS).
Lebih lanjut Ishartini menjelaskan bahwa lab BUSPM ini menjadi satu-satunya lab uji kontaminasi radioaktif produk perikanan di Indonesia dan yang pertama di kawasan Asia Tenggara.
Selain itu, ia mengatakan jika Lab BUSPM ini bisa digunakan untuk menguji parameter mutu dan keamanan pangan baik bakteri, virus, kimia, logam berat, residu dan parameter radionuklida pangan asal ikan.
"Hasil uji lab bisa dipakai mengurus SMKHP (Sertifikat Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan-red) sebagai persyaratan ekspor di beberapa negara bersyarat bebas radioaktif misalnya Amerika Serikat," tukas Ishartini.
Pada bulan September-Oktober lalu Indonesia memang mengalami kendala soal isu Cs-137 pada produk perikanan Indonesia di Amerika Serikat. Namun sejak 31 Oktober 2025 sampai 11 Juni 2026 KKP telah berhasil mengawal ekspor udang ke AS sebanyak 4072 kontainer dengan sebanyak 3370 kontainer telah masuk pasar AS dengan volume 51.607 ton senilai Rp 8,78 Triliun.

