• 10 June 2026

Temuan Lima Varietas Kakao Unggulan, Siap Dikembangkan

uploads/news/2026/06/temuan-lima-varietas-kakao-735597967c3ae40.jpg

Jagad Tani - Penguatan hilirisasi dan peningkatan daya saing komoditas perkebunan bisa dilakukan melalui kolaborasi riset dan inovasi. Salah satunya lewat kelahiran lima varietas unggul baru kakao yang siap dikembangkan secara luas.

Menurut Rubiyo, Peneliti komoditas kakao, Rubiyo, dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), salah satu varietas unggulan yang telah dihasilkan yaitu BP 1, dengan sejumlah kelebihan seperti ukuran biji yang besar, kandungan lemak tinggi, dan produktivitas yang mampu mencapai sekitar tiga ton biji kering per hektare per tahun.

Baca juga: Sidrap Terus Perkuat Posisinya Sebagai Lumbung Pangan

Selain itu, tim penelitinya juga sudah menghasilkan varietas unggul lainnya, yakni RHS 1 dan RHS 2, yang memiliki fungsi sebagai sumber benih sekaligus mendukung pengembangan kakao hibrida guna meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat.

"Untuk BP 1 sudah menyebar di seluruh Indonesia. Sementara RHS 1 dan RHS 2 telah dikembangkan di tujuh provinsi," ungkapnya dalam keterangan tertulis dikutip Rabu (10/06).

Lebih lanjut, disebutkan Rubiyo jika hal ini merupakan peluang yang sangat baik karena varietas unggul tersebut sudah siap dimanfaatkan untuk pengembangan kebun induk, kebun benih maupun untuk kegiatan sambung pucuk atau grafting di tingkat petani.

Berdasarkan data Statistik Perkebunan, jumlah produksi kakao pada tahun 2024 tercatat sebesar 617 ribu ton dari luas areal 1,37 juta hektare. Pada 2025 (angka sementara) produksi berada di kisaran 616 ribu ton.

Sedangkan pada awal tahun 2026, jumlah ekspor kakao Indonesia tercatat sekitar 348 ribu ton dengan nilai mencapai USD2,65 miliar (sekitar Rp44,6 triliun) dan diproyeksikan akan mencapai 635 ribu ton hingga akhir tahun dengan luas areal mencapai 1,38 juta hektare. 

Pengembangan varietas unggul kakao, dinilai membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan para peneliti sehingga bisa semakin memperkuat posisi indonesia di bidang kakao.

Dari tujuh provinsi yang telah mengembangkan varietas tersebut, sebagian besar melibatkan perusahaan yang berperan dalam mempercepat diseminasi teknologi kepada masyarakat.

"Kalau ingin penyebarluasan inovasi berlangsung secara masif, maka kolaborasi seperti ini sangat penting. Tujuannya agar Kementerian Pertanian dapat menghasilkan kakao dengan produktivitas tinggi, mutu yang baik, dan pada akhirnya mampu meningkatkan pendapatan petani," terangnya.

Ke depannya, pengembangan varietas unggul kakao diharapkan menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat hilirisasi perkebunan nasional, meningkatkan nilai tambah produk kakao, sekaligus memperkuat kesejahteraan petani dan berdaya saing di pasar global.

"Saya siap memberikan dukungan dan berkolaborasi agar inovasi ini benar-benar memberikan manfaat bagi petani dan pembangunan pertanian Indonesia," tandas Rubiyo.

Related News