Peternak Telur di Blitar Akan Diserap MBG
Jagad Tani - Para peternak telur ayam di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, yang berapa waktu lalu menyuarakan aspirasinya mengenai depresiasi harga telur ayam ras yang dialami dalam beberapa waktu terakhir, mulai mendapatkan kabar baik.
Maino Dwi Hartono selaku Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) menjelaskan bahwa penyerapan telur melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan mengandalkan operasional harian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di Kabupaten Blitar telah dipastikan.
Baca juga: Dollar Menguat, Harga Kedelai Melonjak, Pengrajin Tempe Berteriak
"Ibu Kepala Badan Gizi Nasional juga sudah menyampaikan agar SPPG-SPPG langsung menyerap peternak, langsung melalui koperasi atau asosiasi. Kenapa melalui koperasi asosiasi? Tentunya itu sebuah kelembagaan yang mempermudah administrasi teman-teman SPPG," ujar Maino sebagaimana dikutip dalam keterangan persnya, Jumat (05/06).
Dalam dialognya dengan Wakil Bupati Blitar, Beky Herdihansah, dan pihak terkait, Kantor Bupati Kanigoro, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Kamis (04/06), pada akhirnya telah memutuskan beberapa solusi yang digunakan sebagai penyangga peternak telur Kabupaten Blitar.
Asapun solusi pertamanya, yakni mitra SPPG di Kabupaten Blitar bersedia menggunakan menu telur dalam program MBG minimal 2 kali dalam seminggu. Kedua, asosiasi/koperasi peternak telur rakyat di Kabupaten Blitar bersedia menyediakan supply telur dan mengantar ke lokasi dapur mitra SPPG di Kabupaten Blitar sesuai dengan standar kualitas yang telah disepakati.
Ketiga, mitra SPPG di Kabupaten Blitar dan asosiasi/koperasi peternak telur rakyat di Kabupaten Blitar sepakat bahwa transaksi jual beli telur dengan harga Rp 24.000 per kilogram dan akan dinaikkan secara bertahap sesuai dengan Harga Acuan Pemerintah. Terakhir, kesepakatan bersama ini dapat diperbaiki sewaktu-waktu.
Untuk tindak lanjutnya, Dinas Peternakan Kabupaten Blitar akan melakukan pemetaan terhadap 117 SPPG aktif terhadap jumlah asosiasi/koperasi peternak telur yang ada sebanyak 17 unit, dengan lokasi dan jarak menjadi pertimbangan utama dalam pemetaan.
"Harga telur hari ini di peternak Blitar Rp21.000. Tadi kita sepakat untuk sementara dibeli Rp24.000. Jadi peternak mengantar ke SPPG. Harapannya ini akan menaikkan harga di pasar," ujar Maino.
"Paling tidak, ini secara psikologis nanti akan menular ke pasar. Mudah-mudahan harga telur di Blitar khususnya dan secara Jawa Timur umumnya ini bisa mulai membaik," sambungnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), komoditas telur ayam ras di Mei mengalami deflasi (penurunan). Deflasi telur di April berada di 4,29% dan di Mei semakin terdepresiasi ke 5,14%. Tren deflasi telur ayam ras menandakan kondisi produsen telur dalam negeri yang sedang mengalami gejolak harga.
Kabupaten Blitar merupakan daerah sentra produsen telur ayam ras dan berkontribusi besar terhadap produksi telur nasional. Sehingga stabilitas telur ayam ras pada tingkat peternak di Kabupaten Blitar menjadi penting untuk dipastikan.
"Kita tahu Blitar itu salah satu produksi terbesar telur ayam ras menguasai 30% nasional. Artinya bayangkan 1 kabupaten menguasai 30%. Ada 500 lebih kabupaten lainnya yang mungkin tergantung juga dari Blitar. Kalau Blitar aman, bagus, (maka) insya Allah secara nasional juga bagus. Begitu di Blitar bermasalah, kondisinya jatuh, saya yakin secara nasional juga berpengaruh," pungkas Maino.
Adapun Wakil Bupati Blitar, Beky Herdihansa menilai jika komoditas telur ayam ras yang telah menjadi unggulan di daerahnya, harus dapat menjadi penggerak ekonom dan harus semakin memperkuat rantai pasok pangan.
"Telur itu kan salah satu protein yang paling murah dan menyehatkan, juga menjadi (asupan) anak cerdas. Kita ingin membangun rantai pasok yang kuat, efisien, dan saling menguntungkan. Peternak membutuhkan akses pasar yang berkelanjutan serta SPPG membutuhkan pasokan telur yang berkualitas, aman, dan tersedia secara kontinu," ujar Beky.
Sementara itu, Tengku Syahdana selaku Direktur Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat Badan Gizi Nasional (BGN) menuturkan bahwa program MBG hadir untuk menjadi penghubung dalam rantai pasok pangan nasional.
"Kita (pihak MBG) langsung beli saja ke peternak dulu, biar harganya stabil dulu, biar nanti supply chain, rantai pasoknya itu, biar stabil lagi. Jadi memang ini PR kita bersama," tandasnya.

