Kurs Dolar Melonjak, Harga Pangan Bisa Terdampak
Jagad Tani - Di tengah lonjakan kurs dolar Amerika Serikat terhadap mata uang rupiah, tentu semua pihak harus waspada pada dampaknya terhadap sektor pangan. Gejolak nilai tukar rupiah ini perlu disikapi secara cermat agar tidak mengacaukan stabilitas harga pangan dalam negeri.
Bahkan per hari kamis (04/06) saja, kurs jual rupiah terhadap dolar di kurs transaksi Bank Indonesia (BI) sudah mencapai Rp18.020,65 per dolar AS dari posisi sebelumnya yang berada di level Rp17.952,31 per dolar AS pada hari rabu (03/06).
Baca juga: Protes Harga Anjlok Peternak Blitar Bagikan Satu Juta Telur
Menyikapi hal tersebut, Rina Sa’adah selaku Anggota Komisi IV DPR RI menjelaskan jika posisi rupiah harus dianalisis secara objektif dengan membandingkan pergerakan mata uang negara tetangga di ASEAN seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.
Menurutnya, jika pelemahan mata uang rupiah ternyata jauh lebih dalam ketimbang negara sekitar, tentunya pihak pemerintah wajib untuk mengevaluasi total apa saja faktor domestik yang mempengaruhi seperti arus modal keluar dan sentimen pasar yang merosot.
“Yang perlu kita lihat bukan hanya angka kurs rupiah terhadap dolar AS, tetapi juga bagaimana posisi Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga. Jika pelemahan mata uang terjadi hampir merata di kawasan, maka tekanan tersebut lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal,” ucap Rina dalam keterangan tertulisnya di Parlementaria dikutip Kamis (04/06).
Rina menilai bahwa pemerintah tidak boleh lengah karena depresiasi rupiah berpotensi melambungkan biaya impor bahan baku lain. Sektor pertanian dan perikanan nasional saat ini masih bergantung pada impor kedelai, gandum, garam industri, hingga bahan baku pakan ternak.
Kenaikan biaya impor komponen tersebut dipastikan bakal mencekik para pelaku usaha di tingkat bawah. Efek domino dari mahalnya bahan baku impor ini akan langsung memukul nasib petani, peternak, serta nelayan akibat biaya produksi yang membengkak drastis.
“Yang menjadi perhatian kami bukan sekadar pergerakan kurs, melainkan dampaknya terhadap biaya produksi dan ketahanan pangan nasional. Jika biaya impor meningkat, maka tekanan terhadap harga pangan dan biaya produksi petani, peternak, nelayan, serta pelaku usaha perikanan juga akan semakin besar,” jelasnya.
Salah satu langkah konkret yang harus segera diambil, menurut Rina, swasembada pangan harus dipercepat guna memutus ketergantungan terhadap pasar luar negeri, melalui penguatan industri pakan lokal, pengembangan benih unggul nasional, serta penyaluran subsidi yang tepat sasaran bagi petani dan nelayan.
“Tingginya angka impor membuat kedaulatan ekonomi bangsa menjadi rapuh dan mudah digoyang oleh dinamika global. Sinergi ketat antara pemerintah pusat dan daerah mutlak diperlukan demi membentengi daya beli masyarakat sekaligus menjaga pasokan pangan tetap aman,” tukasnya.

