Varietas Padi Adaptif Gamagora di Uji Coba
Jagad Tani - Inovasi varietas padi yang adaptif, menjadi salah satu solusi bagi sektor pertanian, di tengah perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan pangan nasional.
Melalui varietas padi Gamagora 7, pihak Universitas Gadjah Mada (UGM), Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Kalimantan Timur, dan Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara, melakukan uji coba padi tersebut.
Baca juga:
Varietas padi ini dinilai mampu tumbuh di lahan sawah maupun lahan tadah hujan. Menurut Guru Besar Fakultas Pertanian UGM Prof. Taryono, varietas tersebut dikembangkan untuk menjawab tantangan pertanian di lahan tadah hujan melalui produktivitas tinggi, ketahanan terhadap hama dan penyakit, serta kandungan gizi yang lebih baik.
Ia menilai jika Gamagora 7 awalnya hanya dikembangkan sebagai padi genjah dengan produktivitas tinggi, namun dalam proses penelitian ditemukan sejumlah keunggulan lain seperti karakter super genjah dan kandungan gizi yang tinggi.
“Gamagora 7 itu produktivitasnya tinggi, umur pendek, super genjah, dan kaya gizi,” ujarnya sebagaimana tertera dalam keterangan tertulisnya di UGM, dikutip Senin (01/06).
Proses pengembangan Gamagora 7 memakan proses yang cukup panjang. Perakitan varietas ini dimulai sejak tahun 2008 dan baru dilepas secara resmi pada tahun 2023, memakan waktu hampir 20 tahun.
Selain itu, untuk dilepas sebagai tanaman tanam, varietas ini harus diuji di 8 lokasi di Indonesia meliputi, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Halmahera, dan NTB.
“Merakit varietas itu perlu dana yang besar, perlu kesabaran, dan waktunya lama,” lanjutnya.
Padi jenis ini produktivitas dinilai cukup tinggi, yakni mencapai 9,7 ton gabah kering giling (GKG) per hektar dan dirancang adaptif terhadap kondisi lahan tadah hujan.
Meski secara administratif dilepas sebagai padi sawah, Taryono menyebut Gamagora 7 sebenarnya diperkenalkan sebagai “padi tadah hujan”.
“Gamagora 7 memenuhi syarat untuk dilepas sebagai padi sawah karena produktivitas dan ketahanannya. Saya optimistis bahwa sebenarnya Gamagora 7 dapat mendukung kemandirian pangan nasional,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua KAGAMA Kalimantan Timur, Lalu Faudzul Idhi, menyebut bahwa uji coba padi Gamagora 7 yang terselenggara di Penajam Paser Utara dilakukan untuk menghubungkan inovasi hasil riset kampus dengan kebutuhan nyata petani.
Pemilihan Kalimantan Timur dinilai karena memiliki tantangan pertanian, mulai dari pola iklim tropis yang tidak menentu hingga kondisi tanah yang miskin akan unsur hara, sehingga cocok untuk menguji Gamagora 7 yang diklaim mampu tumbuh di lahan basah maupun tadah hujan.
“Kondisi iklim seperti itu yang membuat kami tertantang untuk mencoba apakah Gamagora 7 ini bisa ditanam,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, Idhi menjelaskan bahwa petani diminta mencoba penanaman pada dua kondisi lahan berbeda untuk membuktikan ketahanan benih terhadap perubahan iklim, serangan hama, serta produktivitas panen sesuai klaim penelitian.
Ia menuturkan bahwa penanaman dilakukan pada lahan seluas 1 hektar yang dibagi menjadi dua bagian, yakni separuh diaplikasikan pada lahan basah, dan separuhnya lagi pada lahan tadah hujan.
“Oleh karena itu, kemarin kita dampingi satu hektar dibagi untuk dua lahan. Kita coba dan sekarang sudah mulai tumbuh,” jelasnya.
Adapun untuk data hasil uji coba nantinya akan menjadi bahan evaluasi dan serta penyempurnaan pengembangan Gamagora 7 sebelum diperluas ke daerah lain di Kaltim, seperti di Kutai Kartanegara dan Kutai Timur.
“Harapan kami tentu ini bisa berhasil, sehingga nanti dapat diperluas ke daerah-daerah lain di Kalimantan Timur,” pungkas Idhi.

