• 9 Agustus 2020

Merosotnya Harga Udang Windu

uploads/news/2020/07/-merosotnya-harga-udang-windu-144590ead654acf.jpg
SHARE SOSMED

Kalau permintaannya banyak kemudian harganya turun, bisa jadi ada mafia di dalamnya. Karena seluruh komoditi yang kita alami itu pasti ada mafianya. Masalah seperti ini sering kita temui di daerah,”

JAKARTA - Di masa pandemi COVID-19, sejumlah perekonomian negara pun kian menurun

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki pertumbuhan perekonomian terbesar selama pandemi sebesar 2,97%.

Angka tersebut dikatakan lebih rendah jika dilihat dari tahun lalu.

Nyatanya, angka tersebut juga mempengaruhi pada usaha budidaya hewan lainnya khususnya udang.

Budidaya udang tentu cukup membuahkan hasil.

Namun, berbeda dengan Udang Windu (Panaeus monodon) yang saat ini penjualannya menurun.

Udang giant tiger atau yang biasa disebut udang windu di Indonesia merupakan udang yang dibudidayakan oleh para petani tambak.

Udang windu dibedakan dalam dua bagian, ada Cephalothorax atau bagian kepala dan dada kemudian ada bagian Abdomen atau perut.

Himpunan Pengusaha Mikro dan Kecil Indonesia (Hipmikindo) pun segera menjembatani masalah harga udang windu yang anjlok di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, di tengah pandemi.

"Di sinilah peran Hipmikindo hadir agar dapat memberikan pencerahan. Termasuk menjembatani persoalan-persoalan yang dihadapi pelaku usaha di Kaltara, salah satunya masalah harga udang windu yang anjlok,” kata Ketua DPD Hipmikimdo Kaltara, Abdul Rasyid seperti melansir dari ANTARA, belum lama ini.

Harga udang windu budidaya di Tarakan kini terus merosot, dari Rp200.000 menjadi Rp85.000 per kilogram untuk ukuran 20.

Kondisi serupa juga terjadi dengan udang windu ukuran lainnya.

Sementara itu, Ketua Umum DPP Hipmikindo, Maz Pandjaitan menjelaskan, perkara komoditas apa pun yang tengah terjadi, khususnya terkait kenaikan harga, disebabkan oleh perilaku oknum dalam mengambil keuntungan lebih.

Kalau permintaannya banyak kemudian harganya turun, bisa jadi ada mafia di dalamnya. Karena seluruh komoditi yang kita alami itu pasti ada mafianya. Masalah seperti ini sering kita temui di daerah,” ungkap Ketua Umum DPP Hipmikindo, Maz Pandjaitan.

Menurutnya, dibutuhkan peran koperasi Hipmikindo yang telah dibentuk oleh DPD Hipmikindo untuk mengupayakan jalur aman tanpa ada campur tangan dari mafia komoditi tersebut.

Maz pun memerintahkan kepada Hipmikindo Kaltara untuk segera membentuk Satgas Pengamanan Komoditi untuk memastikan penyebab masalah yang dikeluhkan seluruh pelaku perikanan di Kota Tarakan.

Comment

Related News

Jagad Tani App Download

Free Sign & Download, Android App