• 7 April 2020

Sehat dengan Beras Hitam

uploads/news/2019/10/sehat-dengan-beras-hitam-184377e6755ef09.jpg
SHARE SOSMED

Beras yang satu ini disebut juga beras terlarang karena dulunya merupakan makanan para raja di China, sehingga rakyat dilarang mengkonsumsinya.

YOGYAKARTA - Beras dengan nama latin Oryza Sativa L. Indica ini kerap disebut dengan beras terlarang. Konon pada zaman kerajaan di China, beras hitam menjadi makanan para raja, sehingga rakyat dilarang mengkonsumsinya. Mengutip data dari Pustaka Litbang Pertanian, beras hitam memiliki khasiat yang lebih baik dibanding beras merah dan putih.

Namun, pangan ini belum terlalu populer di kalangan masyarakat Indonesia. Ialah Wardi, pria 42 tahun yang menjadi satu-satunya petani yang mengembangkan beras hitam di Cangkringan, Sleman. Pria yang dulunya berprofesi sebagai penjual bakso ini mengawali budidaya beras hitam setelah erupsi Gunung Merapi pada 2010. Budidaya beras hitam yang ia jalankan merupakan bentuk kerja sama dengan Roemah Organik. “Awalnya Saya dikasih bibit dari Roemah Organik sebanyak lima kilogram. Kemudian Saya tanam, sampai sekarang Alhamdulillah bisa berkembang,” ujar Wardi saat ditemui di rumahnya.

Setelah panen, ternyata budidaya beras hitam memberikan keuntungan yang cukup besar. Karena harga jual beras hitam dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan beras putih. Pria asal Wonogiri ini juga menggunakan sistem organik dalam budidaya beras hitamnya, sehingga dapat menambah nilai ekonomis.

Wardi menggunakan bahan-bahan alami dalam budidaya beras hitam. Untuk pupuk, Ia menggunakan kompos dan arang sekam. Untuk pengendalian hama wereng atau walang sangit, Wardi menggunakan urin kelinci. Sedangkan, untuk hama ulat menggunakan abu dari arang sekam atau abu dapur.

“Abu dari arang sekam atau pembakaran kayu di dapur diaplikasikan sekitar pukul lima atau enam pagi saat embun masih menempel pada batang padi itu ampuh mengusir ulat. Kalau embun sudah tidak ada abu tidak dapat menempel di batang sehingga tidak berfungsi,”tuturnya.

Wardi membuat semua pupuk dan pengendali hama sendiri di dalam kandang samping rumahnya. Dalam bisnis ini, Wardi juga menjual benih beras hitam. Pemilihan benih yang baik cukup mudah. Hanya dengan merendam benih dalam air, maka benih yang tenggelam memiliki kualitas baik.

“Kalau yang mengapung di dalam air itu kualitasnya buruk, harus dibuang,”ujar Wardi.

Penanaman padi beras hitam tidak berbeda dengan padi beras putih pada umumnya. Setelah benih direndam selama tiga hari muncul kecambah kemudian disemai. Wardi menggunakan lahan sawah secara langsung. Setelah 15 - 20 hari, bibit padi beras hitam harus sudah ditanam.

“Usia 15 - 20 hari bibit memiliki kesuburan yang cukup bagus, sehingga harus cepat-cepat ditanam. Jika melebihi satu bulan maka bibit sudah menurun kualitasnya,” kata Wardi.

Selain menggunakan organik, Wardi juga menggunakan System of Rice Intensification (SRI). Dimana satu lubang hanya ditanami satu batang bibit padi. Dengan menggunakan sistem ini, tunas atau anakan padi akan tumbuh jauh lebih banyak dibandingkan dengan sistem yang lain.

Setelah bibit ditanam selama seminggu hingga sepuluh hari, kemudian diberi pupuk kompos yang dicampur dengan arang sekam. Arang sekam digunakan untuk memperbaiki sifat tanah. karena daerah Cangkringan dekat dengan Gunung Merapi sehingga memiliki sifat tanah berpasir.

“Dua minggu kemudian ditengok perkembangan tanamannya. Jika sudah maksimal maka tidak perlu ditambahkan apapun. Jika belum maksimal, Saya menambah pupuk cair yang terbuat dari limbah dapur,” ujar Wardi.

Padi beras hitam memiliki waktu yang sedikit lama untuk bisa dipanen. Dengan perawatan yang maksimal, padi beras hitam baru bisa dipanen setelah usia empat hingga lima bulan dari bibit di tanam. (MK)

Comment

Related News

Jagad Tani App Download

Free Sign & Download, Android App