• 12 Juli 2020

Ketika Jamur Enoki Bermasalah

uploads/news/2020/06/ketika-jamur-enoki-bermasalah-27803773311f7ef.jpg
SHARE SOSMED

Pemusnahan dilakukan pada tanggal 22 Mei 2020 dan 19 Juni 2020 di PT. Siklus Mutiara Nusantara, Bekasi, yang dihadiri oleh perwakilan dari pelaku usaha dan BKP, sejumlah 1.633 karton dengan berat 8.165 kilogram.”

JAKARTA - Sahabat Tani yang gemar masakan asal Korea Selatan, pasti tidak asing dengan jamur enoki.

Tapi sayang, jamur ini ternyata bermasalah.

Hingga, membuat Badan Ketahanan Pangan (BKP), Kementerian Pertanian (Kementan), memutuskan memberikan perintah kepada importir untuk menarik dan memusnahkan produk jamur enoki dari Green Co Ltd asal Korea Selatan.

Perintah itu berdasarkan informasi dari International Food Safety Authority Network (INFOSAN), jaringan otoritas keamanan pangan internasional di bawah Food and Agriculture Organization (FAO)/World Health Organization (WHO).

Baca juga: Manfaat Kulit Ari Kacang Tanah

Hal itu terkait dengan kejadian luar biasa (KLB) pada Maret-April 2020 lalu di Amerika Serikat, Kanada, dan Australia, akibat mengkonsumsi jamur enoki asal Korea Selatan yang tercemar bakteri Listeria Monocytogenes.

Pemusnahan dilakukan pada tanggal 22 Mei 2020 dan 19 Juni 2020 di PT. Siklus Mutiara Nusantara, Bekasi, yang dihadiri oleh perwakilan dari pelaku usaha dan BKP, sejumlah 1.633 karton dengan berat 8.165 kilogram,” ujar Badan Ketahanan Pangan Kementan, Agung Hendriadi di Jakarta, seperti melansir ANTARA, Kamis (25/6) kemarin.

Agung menegaskan, sampai hari ini di Indonesia belum ditemukan adanya KLB karena kontaminasi bakteri dari jamur enoki tersebut.

Meski demikian, pihaknya telah menginvestigasi serta mengambil sampling terhadap produk jamur enoki asal produsen di Korea Selatan yang dinotifikasi oleh INFOSAN.

Pada 21 April hingga 26 Mei 2020, BKP Kementan juga telah meminta importir, agar tidak mengedarkan jamur, sampai selesai.

Berdasarkan hasil pengujian di laboratorium PT Saraswati Indo Genetech, sebanyak lima lot tidak memenuhi persyaratan, karena terdeteksi mengandung bakteri L Monocytogenes melewati batas dengan kisaran 1,0x104 hingga 7,2x104 colony per gram.

Oleh karena itu, BKP pun meminta Badan Karantina Pertanian melakukan peningkatan pengawasan keamanan pangan jamur enoki asal Korsel.

Selain itu, BKP juga meminta importir jamur enoki agar mendaftarkan produknya ke Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Pusat (OKKPP).

Kepada importir, BKP meminta untuk memisahkan jamur enoki yang diimpor dari Green Co Ltd dan mengembalikan kepada distributor untuk ditangani lebih lanjut.

Importir juga diminta untuk menerapkan langkah sanitasi demi mencegah kontaminasi silang, serta melakukan pengujian laboratorium jika diperlukan.

Bakteri listeria merupakan salah satu bakteri yang tersebar luas di lingkungan pertanian, baik di tanah, tanaman, silase, fekal, limbah, dan air.

Bakteri ini mempunyai karakter tahan terhadap suhu dingin, sehingga mempunyai potensi kontaminasi silang terhadap pangan lain yang siap dikonsumsi dalam penyimpanan,” kata agung.

Jamur Enokitake atau jamur enoki merupakan jamur pangan dengan tubuh buah hasil budidaya berbentuk panjang-panjang berwarna putih seperti tauge.

Dikenal juga sebagai jamur tauge, jamur musim dingin, atau jamur jarum emas.

Di wilayah negeri beriklim sejuk, jamur tumbuh di alam bebas pada suhu udara rendah mulai musim gugur hingga awal musim semi.

Jamur juga diketahui tumbuh di bawah salju.

Jamur tumbuh di permukaan batang pohon Celtis sinensis (bahasa Jepang: Enoki) yang sudah melapuk, sehingga disebut Enokitake (jamur Enoki).

Jamur juga bisa tumbuh di permukaan batang kayu lapuk pohon-pohon berdaun lebar seperti Bebesaran dan Kesemek.

Jamur ini sering dianggap sebagai hama bagi beberapa produk pertanian.

Jamur Enokitake hasil budidaya sendiri bisa dipanen sepanjang tahun.

Tubuh buah Enokitake hasil budidaya terlihat berbeda dari Enokitake yang tumbuh di alam bebas.

Jamur hasil budidaya dilindungi dari sinar matahari sehingga berwarna putih, sedangkan jamur di alam bebas berwarna coklat hampir merah jambu.

Jamur hasil budidaya juga memiliki batang yang panjang dan kurus-kurus, sedangkan jamur di alam bebas memiliki batang yang lebih pendek dan gemuk.

Rasa jamur hasil budidaya juga sangat berbeda dengan jamur yang tumbuh di alam bebas.

Enokitake yang tersedia di pasar swalayan merupakan hasil budidaya.

Jamur dibudidayakan dengan menggunakan botol plastik atau kantong plastik.

Biasanya, enokitake yang tersedia di pasar swalayan merupakan hasil budidaya.

Baca juga: Menanti Kalteng menjadi Lumbung Pangan

Jamur dibudidayakan dengan menggunakan botol plastik atau kantong plastik.

Jamur memerlukan waktu 30 hari pada suhu 15°C dan kelembaban 70% di atas media tanam serbuk gergaji atau serbuk bonggol jagung ditambah berbagai bahan campuran lain.

Setelah itu, jamur masih perlu tumbuh 30 hari lagi dengan suhu yang lebih sejuk dan lebih lembab.

Comment

Related News

Jagad Tani App Download

Free Sign & Download, Android App