• 12 Juli 2020

Mengenal Kelelawar, Si Pembawa Penyakit

uploads/news/2020/06/mengenal-kelelawar-si-pembawa-5404168568e6585.jpg
SHARE SOSMED

Kelelawar tidak memberhentikan virus dan tidak sakit. Kami ingin memahami mengapa virus MERS tidak mematikan respons kekebalan kelelawar seperti pada manusia.”

JAKARTA - Secara tiba-tiba, pandemi COVID-19 menyebabkan seluruh negeri mengalami penurunan ekonomi yang sangat signifikan, hingga memakan banyak perusahaan.

Salah satu kemungkinan penyebabnya yaitu kelelawar.

Kelelawar sendiri merupakan hewan yang sering kali dikaitkan sebagai hewan pembawa penyakit zoonosis atau penyakit yang bisa dengan mudah ditularkan dari hewan kepada manusia.

Baca juga: Urgensi Zoonosis Perdagangan Satwa Liar

Kelelawar merupakan hewan yang termasuk dalam anggota kelas mamalia yang tergolong dalam ordo Chiroptera.

Sebutan kelelawar sangat banyak dan beragam.

Di Indonesia sendiri kelelawar memiliki nama lain seperti, lowo, masyarakat Sunda mengenalnya dengan sebutan kampret, sedangkan masyarakat Jawa dengan sebutan Codot, lalai, cecadu, tayo, kusing, prok.

Suku Dayak di Kalimantan sendiri memberi sebutan Hawa atau lawa, sementara di Indonesia bagian Timur menyebutnya sebagai Paniki.

Hewan yang mirip seperti vampire ini memiliki jumlah spesies terbanyak kedua setelah mamalia pengerat di kelas mamalia.

Jumlah jenisnya yang begitu banyak ternyata memang bermanfaat bagi alam ini.

Menurut buku yang ditulis oleh Hodgkison pada 2003, sebenarnya manusia sangat diuntungkan dengan keberadaan kelelawar.

Ini karena perannya sebagai pemencar biji buah-buahan dan juga sebagai penyerbukan bunga maupun buah-buahan.

Namun, melansir dari Live Science, belakangan ini para ilmuwan yang mengawasi kelelawar di Myanmar, telah menemukan enam kasus baru COVID-19.

Menurut ilmuwan, virus-virus yang berada di dalam tubuh kelelawar merupakan keluarga yang sama dengan virus SARS-CoV-2 yang saat ini telah menyebar di seluruh dunia.

Namun, penelitian tersebut mengatakan, virus yang ditemukan tidak memiliki hubungan erat secara genetik dengan SARS-CoV-2 atau dengan dua virus corona lain yang menyebabkan infeksi parah pada manusia.

Sindrom pernafasan akut yang parah atau Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), yang menyebabkan pandemi pada 2002-2003, dan Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS).

Para peneliti juga menemukan virus ketika meneliti kelelawar di Myanmar sebagai bagian dari program PREDICT yang didanai pemerintah.

Program tersebut bertujuan untuk mengidentifikasikan penyakit menular yang berpotensi menyebar dari hewan ke manusia.

Kelelawar dijadikan sendiri tersangka utama, karena mamalia itu dianggap menampung ribuan virus corona yang belum ditemukan.

Virus SARS-CoV-2, yang menyebabkan pandemi COVID-19, juga diperkirakan berasal dari kelelawar sebelum menular ke manusia.

Akan tetapi, kemungkinan lainnya penyakit tersebut datang melalui beberapa perantara terlebih dahulu.

Namun, hingga kini keputusan kelelawar sebagai pembawa virus COVID-19 masih jadi perdebatan para peneliti.

Beberapa peneliti bahkan telah menemukan hasil penelitian, namun belum dapat memecahkannya.

Seperti tim peneliti dari University of Saskatchewan (USask), Kanada yang telah mengungkap jika kelelawar dapat membawa COVID-19 sindrom Timur Tengah (MERS) tanpa menjadi sakit.

Penelitian tersebut dapat menjelaskan, bagaimana pandemi ini membuat lompatan ke manusia dan kepada hewan lain.

"Kelelawar tidak memberhentikan virus dan tidak sakit. Kami ingin memahami mengapa virus MERS tidak mematikan respons kekebalan kelelawar seperti pada manusia," kata ahli mikrobiologi USask, Vikram Misra belum lama ini.

Penelitian yang baru saja diterbitkan oleh Scientific Reports menemukan untuk pertama kalinya, jika sel-sel dari kelelawar pemakan serangga dapat terus-menerus terinfeksi dengan MERS COVID-19 selama berbulan-bulan.

Ini karena, adaptasi penting dari kelelawar dan virus yang bekerja bersama.

Meski demikian, kelelawar memberikan manfaat juga loh Sahabat Tani.

Sekitar 70% jenis kelelawar merupakan pemakan serangga.

Baca juga: Kelelawar Tidak Harus Dimusnahkan

Kelelawar jenis ini membantu membasmi hewan yang mematikan bagi manusia, seperti nyamuk.

Nyamuk bukan hanya menghisap darah manusia, namun juga bisa menyebabkan penyakit pada manusia seperti demam berdarah dengue (DBD) atau malaria yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti.

Bahkan, seekor kelelawar berwarna coklat dapat memangsa sebanyak 1.000 serangga per jamnya.

 

Comment

Related News

Jagad Tani App Download

Free Sign & Download, Android App