• 9 Agustus 2020

Menanam Si Merah Manis, Strawberry

uploads/news/2019/10/menanam-si-merah-manis--64634769794dc22.jpg
SHARE SOSMED

Dalam menanam strawberry, Slamet Widodo, memiliki cara tersendiri.

SLEMAN - Slamet Widodo dan istrinya, pengelola Omah Strawberry Jogja, Jalan Kaliurang KM 17, Pakem, Sleman, berhasil menanam strawberry dengan cita rasa manis dan memiliki trik sendiri dalam menanamnya. Lalu bagaimana cara ia menanam di lahannya yang memiliki luas tanah satu hektare ini?

Menurut Slamet, bibit strawberry diambil dari sulur (Stolon) atau bagian yang menjuntai ke bawah dan memiliki daun kecil yang keluar dari tanaman induk. Sulur dimasukkan ke gelas aqua berukuran kecil untuk pembibitan. Pembibitan dilakukan hingga akar dari bibit tersebut ke luar. Apabila tidak kekeringan, waktu yang dibutuhkan hingga akar keluar kira-kira dua minggu.

Setelah itu, bagian yang masih tersambung dengan tanaman induk akan dipotong, bibit yang telah berakar sudah siap dipindahkan ke media yang lebih besar, seperti tanah dan polybag. Slamet memilih menggunakan metode vertikultur sistem rak dengan media polybag untuk mengantisipasi serangan hama uret (lepidiota stigma) yang bisa memakan akar tanaman. Ada yang disusun 3 rak dan ada yang 1 rak.

“Karena di sini banyak penggerek akar (hama uret) di tanahnya, dan itu fatal karena dia memakan akar tanaman,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa metode yang digunakan juga bergantung pada tipologi wilayah. Banyak petani strawberry yang menggunakan hamparan tanah, namun menurut Slamet metode tersebut bisa membahayakan karena apabila hama menyerang satu pohon, maka bisa langsung menyebar ke pohon lainnya. Berbeda dengan menggunakan polybag, hama yang menyerang satu polybag tidak akan berpengaruh ke strawberry di polybag yang lain.

“Karena rupanya semakin dekat ke tanah dia efek serangnya makin besar,” kata Slamet.

Slamet pernah mencoba menggunakan hamparan tanah secara langsung, namun hasilnya ia hanya bisa memanen sekali dalam setahun. Saat menggunakan polybag dengan metode vertikultur, Omah Strawberry yang juga merupakan tempat wisata petik strawberry ini bisa panen setiap hari.

Buah strawberry sebetulnya memiliki sifat bisa berbuah setiap hari, namun serangan hama bisa membuat akar tanaman habis dan langsung mati. “Ketika akar habis kan tanaman gak bisa ambil makanan dari tanah,” ucap Slamet tentang bahaya menggunakan hamparan tanah.

Serangan hama sebetulnya bisa dicegah dengan pupuk kimia, namun Slamet memilih tidak menggunakannya. Ia menghindari bahan-bahan kimia karena mencegah dampak residu yang akan mengendap dalam tubuh. Selain itu, Slamet juga mempertimbangkan hama yang bisa resisten pada tahun berikutnya dan tentu akan membutuhkan tambahan dosis.

“Makanya kita semua pakai organik, pupuknya organik, semuanya organik,” kata Slamet yang memilih menggunakan pupuk kandang dan sekam padi.

Menurut Slamet, perawatan dan penggunaan media yang baik akan menunjang hasil panen yang baik. Biasanya waktu yang dibutuhkan dari penanaman hingga berbuah ialah kurang dari dua bulan, namun jika perawatan kurang baik, maka akan berbuah di bulan kedua atau ketiga.

“Makin bagus kualitas perawatannya, dia berbuahnya semakin sering, kemudian buahnya juga makin bagus,” katanya.

Agar mencapai kualitas yang bagus, Slamet mengatakan perawatan strawberry harus dilakukan dengan ketekunan dan kreativitas. Kedepannya Omah Strawberry Jogja akan mengembangkan strawberry transgenik, yaitu modifikasi sel untuk memberi warna baru pada strawberry. (FDT)

Comment

Related News

Jagad Tani App Download

Free Sign & Download, Android App