• 24 January 2022

Menanti Kebangkitan Konsumsi Susu Indonesia

uploads/news/2020/06/menunggu-kebangkitan-konsumsi-susu-225648b20b4a630.JPG
SHARE SOSMED

JAKARTA - Di tengah pandemi COVID-19, asupan makanan dan minuman yang bergizi tinggi sangat diperlukan untuk memperkuat daya tahan tubuh, salah satunya dengan mengkonsumsi susu.

Karena banyaknya manfaat yang diperoleh dari susu, Food and Agriculture Organization (FAO) sejak 2001 lalu menetapkan 1 Juni diperingati sebagai World Milk Day.

Peringatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran tentang pentingnya mengonsumsi susu setiap hari.

Kegiatan ini pun menjadi acara tahunan di banyak negara di dunia.

Baca juga: Menyelamatkan Petani di Tengah Pandemi

Indonesia juga turut serta merayakan Hari Susu Dunia sejak 1 Juni 2009 lewat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 2182/KPTS/PD.420/5/2009, dengan tajuk “Hari Susu Nusantara.”

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita mengingatkan tentang pentingnya masyarakat untuk terus mengkonsumsi susu.

Namun, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia tahun 2019 masih berkisar 16,23 kilogram per kapita per tahun.

"Konsumsi susu di Negara kita masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain," dalam keterangan tertulis Kementerian Pertanian, Senin (1/6) kemarin.

Ia juga mengatakan, secara umum susu memiliki banyak manfaat untuk pertumbuhan seperti untuk regenerasi sel, menguatkan tulang dan gigi.

Selain itu, menyokong pertumbuhan fisik, meningkatkan kecerdasan, mampu mencegah stunting pada anak-anak, serta meningkatkan imunitas tubuh, sehingga meminimalisir potensi terinfeksi agen penyakit.

"Di masa pandemi COVID-19 saat ini, konsumsi susu menjadi penting untuk peningkatan imunitas tubuh yang merupakan salah satu cara untuk meminimalisir potensi terinfeksi agen penyakit,"ucap Ketut.

Ketut juga menyoroti pentingnya peningkatan populasi sapi perah untuk meningkatkan produksi susu dan memenuhi kebutuhan susu nasional.

Menurut Data Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2019, populasi sapi perah nasional pada tahun 2019 sebanyak 561.061 ekor dengan produksi susu sebanyak 996.442 ton.

"Pertumbuhan populasi sapi perah dan pertumbuhan produksinya belum mampu mengimbangi pertumbuhan konsumsi, sehingga ketersediaan sebagian besar produk susu dan turunannya adalah melalui importasi yang semakin lama semakin meningkat,"terangnya.

Menurut data Badan Pusat Statistik Tahun 2020, dengan jumlah kebutuhan susu nasional tahun 2019 mencapai 4.332,88 ribu ton, produksi Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) hanya mampu memenuhi 22% dari kebutuhan nasional, sehingga 78%nya berasal dari impor.

Selain itu, produksi susu saat ini masih didominasi oleh susu sapi, padahal kita memiliki potensi ternak lain seperti kambing perah (kambing peranakan ettawa, kambing saanen) dan kerbau perah yang pemanfaatannya belum optimal.

"Berbagai permasalahan dan tantangan dalam pengembangan industri susu nasional harus didorong bersama melalui peran aktif dari semua pihak, tidak hanya pemerintah namun juga akademisi, swasta, industri dan tentu saja para peternak itu sendiri," sambungnya.

Kementerian Pertanian (Kementan) sendiri telah berupaya mengembangkan persusuan nasional untuk mencapai target pemenuhan kebutuhan susu nasion di 2025 sebanyak 60% sesuai dengan Cetak Biru Persusuan 2013-2025 yang dikeluarkan oleh Kementerian Koordinator bidang Perekonomian.

Pemerintah menyusun dan menetapkan berbagai program dan kegiatan untuk pengembangan persusuan, baik melalui APBN, APBD, maupun melalui kemitraan dengan industri dan lembaga pembiayaan", ungkapnya.

Untuk meningkatkan populasi sapi perah, Diarmita mengungkapkan upaya pemerintah untuk meningkatkan populasi sapi perah yang dilakukan melalui berbagai cara.

Diantaranya: program SIKOMANDAN (Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri), pemasukan bibit sapi perah untuk replacement induk dan dikembangkan di Balai Ternak Unggul Baturaden.

Selain itu, ada juga pengembangan rearing unit di Unit Pelaksana Teknis (UPT) atau Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dan melalui kemitraan dengan Industri Pengolahan Susu (IPS).

Ada juga penetapan kawasan pengembangan sapi perah nasional, perbaikan mutu genetik melalui pejantan unggul hasil uji zuriat atau progeny test, dan produksi semen beku sexing, kemudahan dalam pengajuan rekomendasi pemasukan atau pengeluaran ternak, produk ternak.

"Dapat melalui aplikasi Sistem Rekomendasi (SIMREK PKH) serta fasilitasi/kemudahan akses pembiayaan (Kredit Usaha Rakyat-KUR/Program Kemitraan Bina Lingkungan-PKBL) untuk peternak sapi perah," ungkapnya.

Selain itu, Kementan juga berupaya untuk mengembangkan ternak perah lain seperti kambing perah dan kerbau perah serta mendorong pihak swasta untuk melakukan diversifikasi genetik sapi perah, melalui pengembangan sapi perah non Frisian Holstein/FH (sapi perah jersey).

Pengembangan sapi perah non FH saat ini masih bersifat closed breeding untuk mengetahui kemampuan adaptasi dan produksi ternak di Indonesia.

"Dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas susu peternak, pemerintah terus berupaya meningkatkan kapasitas SDM peternak melalui bimbingan teknis dan pelatihan, serta melakukan pendampingan kepada peternak seperti untuk penerapan Good Farming Practices (GFP),"ucapnya.

Kementan juga tengah berupaya meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk peternak melalui diversifikasi produk, fasilitasi sarana prasarana pengolahan susu, pengurusan izin edar produk susu, serta fasilitasi/pendampingan sertifikasi organik untuk kelompok peternak, serta fasilitasi pemasaran melalui akses market online bekerjasama dengan marketplace

"Untuk peningkatan konsumsi susu, pemerintah terus berupaya mendorong meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi susu melalui sosialisasi dan promosi, baik melalui media sosial maupun sarana promosi,"ucap Ketut.

Baca juga: Menyelamatkan Petani di Tengah Pandemi

Dalam mendorong pengembangan usaha peternak atau pelaku usaha melalui pengurangan pajak penghasilan atau tax allowance, akses pembiayaan/kredit (Kredit Usaha Rakyat (KUR), Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) dan Badan Usaha Milik Negara/BUMN), asuransi peternak seperti: Asuransi Usaha Ternak Sapi/Kerbau/AUTS, serta mendorong kemitraan dengan industri. 

Berbagai kebijakan dan program yang telah lakukan tentu saja tidak akan berhasil tanpa dukungan dari semua stake holder dan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, melalui momentum Peringatan Hari Susu Nusantara ini kami berharap peran serta semua stakeholder,” katanya.

"Baik Kementerian/Lembaga, pemerintah daerah, akademisi, industri, koperasi dan seluruh peternak sapi perah di Indonesia untuk terus bersama-sama bergandengan tangan menuju agroindustri persusuan yang tangguh dan mandiri untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia seutuhnya,” tutupnya.

Related News