• 7 Agustus 2020

Yuk, Belajar Breeding Kalkun

uploads/news/2019/10/yuk-belajar-breeding-kalkun-3593946314859f7.jpg
SHARE SOSMED

Erzani, peternak kalkun asal Dusun Pandes II, Desa Wonokromo, Pleret, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki caranya sendiri dalam breeding ayam kalkun, seperti apa caranya?

 

BANTUL - Setiap peternak memiliki cara breeding atau pembibitan ayam kalkun yang berbeda-beda. Pada 2010 silam, Erzani, peternak kalkun di Dusun Pandes II, Desa Wonokromo, Pleret, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mulai beternak dan melakukan uji coba breeding kalkun.

Ketekunannya dalam breeding kalkun membuat lelaki yang akrab disapa Zani itu kini membina 30 lebih peternak kalkun yang tersebar di Bantul dengan total jumlah ternak sekitar 1000 ekor. Zani bercerita jika ia memulai ternak kalkun secara otodidak dengan belajar dari berbagai literatur.

“Saya coba menerapkan berbagai cara,” katanya.

Hingga akhirnya ia menemukan beberapa metode breeding yang ia bagi menjadi tiga yaitu, “metode intensif,” “metode umbaran,” dan “metode dodokan.” Setiap metode breeding disesuaikan dengan potensi masing-masing peternak. Breeding dengan metode intensif digunakan untuk pembesaran kalkun dan diterapkan oleh peternak yang memiliki kandang luas.

Kandang dibuat petak-petak misalnya dengan ukuran 3 x 2, kemudian masukan satu ayam kalkun pejantan dan lima atau enam ayam kalkun betina. Metode intensif menggunakan sistem gilir, artinya pejantan lain yang tidak dimasukkan ke kandang lalu diistirahatkan dan menunggu giliran selama tiga hari untuk menggantikan pejantan sebelumnya. Sistem gilir bertujuan untuk menjaga stamina dan kualitas sperma setiap pejantan.

“Itu yang sudah ganti istirahat kita kasih pakan yang baguslah,” tutur Zani.

Penggunaan mesin penetas juga diperlukan metode ini untuk memaksimalkan indukan. Metode umbaran biasanya untuk ukuran kandang yang sempit. Motode umbaran merupakan ayam jantan dan betina langsung diumbar untuk proses breeding tanpa dimasukkan ke dalam kandang petak.

Perbandingan jumlah jantan dan betina sama seperti pada metode intensif. Ayam jantan lainnya yang tidak digunakan untuk breedingjuga akan dikurung dan diistirahatkan. Sama halnya dengan metode intensif, metode ini juga menerapkan sistem gilir. Breeding dengan metode terakhir menurut Zani yaitu dodokan. Breeding dengan metode dodokan dilakukan oleh peternak dengan langsung mengawinkan kalkunnya sendiri.

Zani mengatakan ayam jantan langsung diarahkan jongkok di atas ayam betina. Biasanya cara ini digunakan untuk peternak yang ingin menyilangkan ayam kalkun sesuai dengan keinginan dan arahannya. Selama dalam usia produktif, setiap kalkun baik jantan maupun betina bisa melakukan breeding.

Usia produktif dimulai dari usia 8 bulan hingga 3 tahun. Dalam proses breeding, kalkun betina yang bertelur tidak ada hubungannya dengan periode jantan dimasukkan ke kandang. Artinya adalah apabila sudah cukup umur dan berat badan cukup, maka sudah bisa bertelur jika telah dibuahi.

Selain itu, proses breeding atau pembibitan tidak akan berhasil jika peternak tidak memberikan pakan yang baik. Peternak harus memastikan bahwa makanan yang diberikan pada kalkun memiliki kandungan serat, protein, dan lemak. “Karena pola makan nanti juga terkait dengan kondisi kualitas ternak, kemudian ketahanan terhadap penyakit,” ucap Zani.

Tidak hanya asal memberi makan, peternak juga perlu menyesuaikan pemberian nutrisi dengan kebutuhan ternaknya. “Jadi ada perbandingan nutrisinya harus sesuai dengan kebutuhan,” katanya.

Misalnya, kalkun yang berusia di atas 2 bulan akan membutuhkan kadar protein sebanyak 17%, berbeda dengan kalkun yang berusia di bawah 2 bulan yang membutuhkan sekitar 20% protein. Zani mengatakan, untuk menekan biaya produksi para peternak bisa menggunakan kepala makanan yang paling penting untuk kalkun adalah hijauan. Peternak bisa menggunakan eceng gondok, daun genjer, daun pisang, dan daun pepaya.

Pemberian pakan tidak perlu berlebihan, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan kalkun. Apabila berlebihan, peternak bisa rugi akibat pengaruh ke biaya produksi. Selain pola makan, pola kandang juga perlu diperhatikan. Bagi kalkun yang berusia di bawah maupun 1 bulan harus menggunakan kandang yang hangat dan bersih.

“Kuncinya pertama kandang hangat, kemudian pakan sama minumnya jangan sampai tercampur dengan kotorannya,“ ucap Zani.

Apabila tidak diperhatikan, pertumbuhannya menjadi lambat dan bisa menyebabkan kematian. Kandang untuk kalkun yang berusia 2 sampai 3 bulan juga harus tetap hangat. Selain kehangatan, kandang kalkun jangan sampai lembab dan harus ada sinar matahari yang masuk. 

Tak hanya itu, peternak perlu menyediakan tempat bertenggek yang terbuat dari bambu maupun kayu di tempat yang tinggi. Bagi Zani, pola pakan dan pola kandanglah yang menentukan kualitas produksi setiap kalkun. (FDT)

Comment

Related News

Jagad Tani App Download

Free Sign & Download, Android App