• 8 Juli 2020

Metode Crowdfunding untuk Ternak Domba

uploads/news/2019/10/metode-crowdfunding-untuk-ternak-831581b953ae992.jpg
SHARE SOSMED

Kalau sahabat tani ingin memulai usaha ternak domba tapi tidak punya modal, jangan panik karena saat ini sudah ada metode crowdfunding.

 

BANTUL - Investasi menjadi hal utama dan penting dalam memulai sebuah usaha, termasuk dalam beternak domba. Namun, tak jarang investasi atau modal awal menjadi kendala bagi peternak. Keinginan mencari modal dengan mudah membuat Ladang Ternak Domba di Dusun Samalo, Desa Patalan, Jetis, Bantul memilih menerapkan metode crowdfunding dalam beternak.

Metode yang baru tahun lalu diterapkan oleh Ladang Ternak yaitu model peternakan yang melibatkan para investor. Peternak yang menggunakan metode ini akan mengajukan proposal yang berisi paket investasi kepada investor, seperti rincian modal awal yang dibutuhkan serta anggaran untuk beternak. Investor yang tertarik nantinya akan memberikan investasi berupa uang dan akan diwujudkan dalam bentuk ternak, pakan, dan tenaga oleh peternak.

“Kita sebagai pengelola yang akan menjalankan bisnisnya, jadi (kita melaksanakan) kegiatan teknisnya sama marketing-nya,” ujar Tio Ramdhan Prabowo (22) pemilik Ladang Ternak. Menurut pria yang akrab disapa Tio itu, penerapan metode crowdfunding menguntungkan peternak dalam hal pemodalan. Peternak akan lebih mudah mendapatkan akumulasi modal yang banyak bila mampu mencari investor.

Apabila menggunakan simpan pinjam sebagai modal, maka peternak harus membayar setiap bulan, sedangkan ternak kesulitan berproduksi di umur satu bulan. Hal ini berbeda dengan metode crowdfunding yang jadwal investasinya bisa dibagi ke dalam beberapa periode dalam setahun.

“Kemudian nanti per empat bulan kita akan mengembalikan ke investor,” kata Tio.

Beternak domba dengan metode crowdfunding bisa diterapkan oleh peternak yang tidak memiliki modal yang cukup untuk mengelola peternakan. Meski demikian, Bayu Mardinta Kurniawan (30) peternak di Ladang Ternak mengatakan jika peternak yang ingin menerapkannya harus memiliki manajemen peternakan yang bagus.

“(Direkomendasikan) tapi dengan catatan aturan manajemennya harus (sudah) jadi,” kata Bayu.

Pengembalian modal dan keuntungan kepada investor harus dipastikan sesuai perjanjian. Ladang Ternak ke depannya menerapkan tiga periode dalam investasi. Mereka akan beternak selama satu tahun. Investor periode kedua akan membeli ternak investor pertama, investor ketiga akan membeli ternak investor kedua, hasil ternak di akhir tahun kemudian akan dijual ke pembeli lain di luar investor.

Melalui manajemen seperti ini, dalam satu tahun sudah dipastikan setiap empat bulan, keuntungan dan modal akan balik ke investor. Selain itu, penerapan metode crowdfunding perlu diiringi dengan SOP atau standar operasional yang detail. Tujuannya, agar perawatan dilakukan dengan aturan-aturan yang baik dan melalui pendataan. Penggunaan SOP yang detail juga diterapkan oleh Ladang Ternak.

“Ketika ternak datang pun kita sudah melakukan pengecekan kesehatan. Kita memberikan obat cacing, vitamin,” ujar Tio.

Setiap bulan, Ladang Ternak akan menimbang dan mencatat perkembangan bobot domba. Hal ini dilakukan agar peternak bisa mengetahui grafik kenaikan bobot. “Kita menginginkan kan paling enggak kita targetnya sebulan itu 3 sampai 6 kilo,” ucap mahasiswa Peternakan UGM (Universitas Gadjah Mada) itu.

Bobot domba juga perlu diperhatikan lantaran sangat mempengaruhi harga jual. Selain itu, nantinya pakan yang diberikan juga akan disesuaikan dengan jumlah rata-rata bobot domba. Kadar pakan pun perlu diatur agar tidak berlebihan dan sesuai kebutuhan. Dalam masa perawatan Ladang Ternak menargetkan kebutuhan protein sebanyak 14% untuk setiap dombanya. Tio mengatakan mereka memang cukup ketat dalam pemberian pakan.

“Karena kan dalam peternakan itu, pengeluaran terbesar itu memang pakan. Jadi kalau kita asal memberikan jatuhnya gak untung,” ungkapnya.

Setidaknya, ada dua jenis makanan yang diberikan, yaitu hijauan dan konsetrat. Hijauan bisa menggunakan rumput odot. Tio mengatakan jika rumput odot habis, peternak di daerah pesisir bisa menggunakan jerami yang telah difermentasi. Sedangkan, konsetrat terbagi menjadi dua, yaitu konsetrat sumber energi dan konsetrat protein.

“Sumber energi itu dari dedak, yang protein itu dari kleci atau kulit kedelai,” ujar Tio.

Pada musim tertentu, apabila tanaman padi sudah mulai jarang, maka peternak harus mengantisipasinya dengan pakan lain untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat domba. “Akhirnya kita harus mengsubtitusi kebutuhan energi karbohidrat dedak itu harus dibantu dengan yang lain,” kata Bayu Mardinta Kurniawan.

Ladang Ternak biasanya memberi pakan kepada ternak dombanya sekali dalam sehari. “Kebetulan kita biasanya pagi sih,” kata Tio. Pakan yang pertama diberikan adalah hijauan, kemudian baru disusul dengan konsetrat. (FDT)

Comment

Related News

Jagad Tani App Download

Free Sign & Download, Android App