• 4 April 2020

Legitnya Beternak Lebah Madu

uploads/news/2019/10/legitnya-beternak-lebah-madu-7636603d8e8f469.jpg
SHARE SOSMED

Meski usahanya tergolong baru, Edi, pemuda desa Sringing, kecamatan Jumantono, Karanganyar, bisa dibilang cukup sukses menjual hasil madunya.

 

KARANGANYAR - Edi, pemuda desa Sringing, kecamatan Jumantono, Karanganyar, sukses berternak lebah madu. Meski usahanya itu belum lama, namun ia sudah berhasil menjual madu dari lebah madu ternaknya lewat daring maupun diambil pembeli secara langsung ke rumahnya. Saat ini dirinya sudah memiliki sebanyak 38 gelodok lebah madu. Awalnya ia hanya memiliki satu koloni.

Kemudian, dirinya juga berhasil mengembangkan menjadi 38 gelondok lebah madu. Sekedar info saja, satu gelodok lebah madu bisa menghasilkan sedikitnya tiga botol berukuran 460 mililiter. Biasanya, satu botol madu ia jual dengan harga bervariasi, yaitu tergantung besar kecilnya ukuran botol madu. Misalnya, satu botol madu berukuran 600 mililiter ia jual dengan harga Rp180 ribu, botol 500 mililiter dijual dengan harga Rp160 ribu dan botol berukuran 250 mililiter dijual dengan harga Rp85 ribu

Edi mengaku, selama ini tidak pernah mengalami kesulitan terhadap usahanya itu. Hanya saja, koloni lebah satu sama lain itu biasanya saling membunuh. Sehingga untuk menghindarinya, perlu dilakukan pemisahan atau ditempatkan pada gelodok (kotak) sendiri. Dengan demikian, lebah tersebut bisa berkembangbiak lebih banyak. Lebah madu yang diternakannya itu, dijelaskan dia, tidak pernah diberi makan. Sehingga, madunya murni dari sari-sari bunga dan menghasilkan madu yang juga alami.

“Madunya lebih bagus jika dibandingkan dengan lebah pacuan atau yang dikasih makan seperti gula,” katanya.

Edi juga menjelaskan, perbedaan madu lebah pacuan dengan madu lebah liar sangat berbeda. Madu hasil dari lebah liar sangat kental, sedang madu lebah pacuan lebih cair dan manis. Kalau lebah liar, lanjut dia, kental dan khas rasanya. Nah, untuk membedakan keaslian madu asli dengan tiruan sekilas, menurutnya cukup mudah, yaitu dengan cara dibakar atau ditaruh di kulit.

“Madu asli juga memiliki kekentalan dan daya lekat yang kuat. Sedang madu tiruan itu biasanya cenderung cair, ” jelasnya.

Untuk memajukan usahanya itu, dirinya mengaku selama ini mendapatkan bimbingan dari lurah setempat. Pihaknya pun berharap, nantinya ada perhatian lebih dari pemerintah kabupaten setempat. Sehingga usaha yang digelutinya itu bisa berkembang. (AS)

Comment

Related News

Jagad Tani App Download

Free Sign & Download, Android App