• 8 Juli 2020

Berhenti Kerja jadi Peternak Sapi

uploads/news/2019/12/berhenti-kerja-jadi-peternak-569972b21a9e47e.jpg
SHARE SOSMED

Selama susu masih dikonsumsi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari, peluang usaha peternakan sapi perah ini akan terus progresif.

BOGOR - Eky Sulistio, enam tahun lalu memutuskan untuk resign atau mengundurkan diri dari perkerjaannya dari salah satu perusahaan swasta. Pemuda 28 tahun itu lebih memilih untuk melanjutkan usaha ternak sapi perah yang sudah turun temurun keluarganya. Pertenakan sapi perah yang berada di Gang Blender, Kelurahan Kebon Pedes, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor ini pertama kali dirintis oleh sang Kakek pada medio 1980.

"Usaha perternakan sapi perah ini turun temurun dimulai dari kakek. Kemudian diteruskan ke anak-anaknya. Saya sendiri cucunya meneruskan usaha ini sebagai generasi ketiga. Saya mulai kelola sendiri sejak tahun 2013," kata Eky saat ditemui JagadTani.id di Djrami Farm.

Baca juga: Kacamata VR untuk Sapi Perah

 

Sebelum memutuskan untuk beternak sapi perah, lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) University ini sempat bekerja di perusahaan swasta. Alasan lain pengunduran dirinya dari tempat kerja, karena panggilan untuk meneruskan dan mengembangkan usaha keluarga yang telah berjalan 39 tahun itu.

"Iya, ini panggilan juga, siapa lagi yang mau meneruskan usaha ini. Karena kandang sudah ada, sapi sudah ada, tinggal bagaimana mengembangkan usaha sapi perah ini menjadi lebih baik lagi," ungkap Eky.

Saat ini, Djrami Farm memiliki 30 ekor sapi perah jenis Friesian holstein dan satu ekor sapi pejantan jenis Limosin. Dalam mengelola peternakan sapi, setiap dua kali sehari, Eky dibantu oleh tiga pekerja yang secara intensif membersihkan kandang. Ia juga selalu memberikan pakan utama berupa ampas tahu dan rumput, serta pakan tambahan konsentrat. 

"Aktivitas di sini dimulai pukul 04.00 sampai 09.00 dari membersihkan kandang, pemberian pakan, kemudian pemerahan susu. Setelah istirahat dengan pekerjaan yang sama dimulai lagi siang hari dari jam 13.00 sampai 17.00. Untuk waktu pemerahan susu dilakukan dua kali, jam 06.00 dan jam 16.00," urainya.

Baca juga: Bateng Integrasikan Sawit untuk Pakan

 

Menurut Eky, untuk menghasilkan susu sapi dengan kualitas baik, beberapa hal di atas harus diperhatikan. Dalam sehari, sambungnya, dari 30 ekor sapi tersebut bisa menghasilkan 150 liter susu. Susu hasil perahan ini untuk memenuhi wilayah Bogor dan Jakarta. 

"Susu hasil perah dijual Rp8.500 per liter. Ada fresh milk, ada juga dalam bentuk susu pasteurisasi siap minum dengan kemasan satu liter. Kita pasarkan di wilayah Bogor dan Jakarta. Kita juga untuk setiap tahun menyediakan sapi kurban," katanya.

Pemerintah Kota Bogor melalui Dinas Pertanian (Distani), diakuinya sangat mendukung peternakan sapi perah di wilayah Kota Bogor. Peternak yang tergabung dalam Kelompok Ternak Maju Terus ini, mengaku selalu mendapatkan layanan kesehatan untuk pencegahan penyakit hewan, berupa vaksinasi brucella dan antraks, hingga pemeriksaan kehamilan hewan.

"Sedangkan untuk penyuluhan kita biasanya dari IPB," imbuhnya.

Eky menyebut, selama susu masih dikonsumsi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari, peluang usaha peternakan sapi perah ini akan terus progresif. Hal ini, sambungnya, tak hanya di usaha bidang peternakan saja, begitu juga pertanian dan perikanan karena semua hasilnya dikonsumsi oleh manusia setiap harinya.

"Insya Allah, (usaha ternak sapi perah) progresif," pungkas anggota Persatuan Peternak Muda Indonesia (Permi) itu.

Comment

Related News

Jagad Tani App Download

Free Sign & Download, Android App