• 4 April 2020

Membudidayakan Tanaman Viral, Porang

uploads/news/2019/11/membudidayakan-tanaman-viral-porang-13813c385a8b4ff.jpg
SHARE SOSMED

Tanaman asli Indonesia yang satu ini dilirik banyak negara seperti Cina, Jepang, Vietnam, Thailand, Hong Kong, Malaysia, Korea Selatan, Selandia Baru, Italia, dan Pakistan. Bagaimana cara budidayanya?

JAKARTA - Porang atau bahasa latinnya Amorphophallus oncophyllus akhir-akhir ini menjadi perbincangan di kalangan masyarakat sejak Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo melepas ekspor sebanyak 60 ton atau setara Rp1,2 miliar ke Cina. Bukan hanya Cina, tanaman ini juga diminati juga oleh Jepang, Vietnam, Thailand, Hong Kong, Malaysia, Korea Selatan, Selandia Baru, Italia, dan Pakistan.

“Tren permintaannya di pasar dunia terus meningkat. Berharap para petani dan eksportir muda untuk memanfaatkan peluang ekspor porang ini,” kata Syahrul saat ditemui usai melepas ekspor Porang, belum lama ini.

Dalam keterangan tertulis Kementan, pada 2019 sejak awal Januari hingga pertengahan November 2019, jumlah porang dari Provinsi Jawa Tengah total berjumlah 509 ton. Lalu apa yang menarik dari tanaman porang ini, sehingga banyak investor yang memburu tanaman ini?

Seperti halnya tanaman umbi-umbian lainnya, tanaman porang mengandung karbohidrat, lemak, protein, mineral, vitamin, dan serat pangan. Karbohidrat merupakan komponen penting pada umbi porang yang terdiri atas pati, glukomannan, serat kasar dan gula reduksi. Kandungan glukomannan yang relatif tinggi merupakan ciri spesifik dari umbi porang.

Glukomannan dapat dimanfaatkan pada berbagai industri pangan antara lain, untuk produk makanan, seperti konnyak, shirataki (berbentuk mie), sebagai bahan campuran atau tambahan pada berbagai produk kue, roti, es krim, permen, jeli, selai, dan bahan pengental pada produk sirup dan sari buah.

Selain itu, glukomannan juga dimanfaatkan oleh industri kimia dan farmasi, antara lain bahan pengisi dan pengikat tablet, bahan pelapis (coating dan edible film), bahan perekat (lem, cat tembok), pelapis kedap air, penguat tenunan dalam industri tekstil, media pertumbuhan mikroba, dan bahan pembuatan kertas yang tipis, lemas, dan tahan air.

Setiap warna pada umbi juga memiliki kandungan glukomannan yang berbeda, untuk porang dengan umbi warna kuning (A. oncophyllus) mengandung glukomannan sekitar 55% dalam basis kering. Sementara porang dengan umbi warna putih (A. variabilis) sedikit di bawahnya, yaitu 44%. Selain itu, kadar glukomannan dalam ubi juga sangat ditentukan umur tanaman pada saat panen.

Bila tanaman dipanen pada satu periode tumbuh, kadar glukomannan dalam ubi berkisar antara 35-39%. Kadar tersebut terus meningkat sejalan dengan umur panen, yaitu 46-48% dan 47-55%, masing-masing pada dua dan tiga periode tumbuh. Namun, dimulai saat tanaman mulai berbunga hingga biji masak, kadar glukomannan menurun hingga 32-35%. Oleh karena itu, panen ubi sebaiknya dilakukan sebelum tanaman mulai berbunga.

Untuk persyaratn tumbuh, tanaman porang mempunyai sifat khusus, yaitu toleran terhadap naungan antara 40%-60%. Oleh karena itu, dapat ditumpangsarikan dengan tanaman keras (pepohonan). Di Indonesia, banyak tanaman porang yang tumbuh liar di pekarangan atau di pinggiran hutan, di bawah naungan pepohonan lain. Pada kondisi tumpangsari tersebut, jarak tanam yang dianjurkan yaitu 90 cm x 90 cm, sehingga populasinya sekitar 5.000-9.000 tanaman per hektare, tergantung jarang tanam tanaman pokok dan tingkat penutupan kanopi tanaman.

Comment

Related News

Jagad Tani App Download

Free Sign & Download, Android App