• 28 September 2021

Percobaan Pemindahan Satwa Ke Habitatnya

SHARE SOSMED

"Begitu mereka sampai di sana, mereka akan sangat bahagia, berkeliaran, bertemu gajah liar lainnya, berkembang biak. Saya pikir kita akan melakukan sesuatu yang baik di dunia jika kita bisa mencapai ini"

Jakarta – Seperti yang kita ketahui, satwa juga membutuhkan tempat tinggal yang bebas dan nyaman. Apalagi, jika dilepas dan disatukan dengan satwa lainnya. Rasanya akan lebih menyenangkan dibandingkan saat tinggal dalam kurungan kandang yang memiliki banyak sekat. Saat ini, Carrie Johnson melakukan projek menghidupkan kembali satwa liar. Projek badan amal ini merupakan trobosan pertama di dunia berencana untuk menerbangkan 13 gajah ke Afrika untuk memberikan kehidupan kembali agar menyatu dengan satwa liar lainnya. Kawanan ternak ini diterbangkan ke Kenya selatan dari Howletts Wild Animal Park di Kent dalam peti yang dipesan lebih dahulu.

Baca juga : Kembalinya Tren Ikan Hias

Taman tersebut, dikelola oleh kelompok konservasi hewan The Aspinall Foundation, yang mempekerjakan istri perdana menteri, Carrie Johnson. Ketua Yayasan Damian Aspinall mengatakan "Tidak diragukan lagi ini adalah tugas terbesar yang telah kami lakukan."Kawanan ternak termasuk tiga anak sapi yang tinggal di kandang di taman dekat Canterbury. Aspinall menambahkan bahwa "Sebahagia apapun mereka di Kent, mereka tidak pantas berada di sini," kata Aspinall.

Ahli ekologi Ben Okita, direktur konservasi, kebijakan, dan perencanaan di Save the Elephants, memperingatkan pada masa lalu, proyek-proyek rewilding telah mengalami kesulitan. Namun, dia menerangkan akan sulit untuk menilai peluang keberhasilan skema tanpa mengetahui detail lengkapnya.

Baca juga : Memesan Hewan Kurban Saat PPKM

Mulai dari bagaimana hewan-hewan itu datang untuk membaur dengan sesama gajah dan hewan liar lainnya dan belum lagi dengan penduduk manusia, semuanya akan memainkan peran utamanya, ucap Dr. Okita, ketua bersama kelompok spesialis gajah Afrika di International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Ia menambahkan, saat dilakukan pengangkutannya bisa berbahaya karena dengan kecerdasan gajah yang tinggi membuat kebutuhannya sangat kompleks. Aspinall mengungkapkan kepada BBC Radio Kent bahwa "Gajah tidak hidup dengan baik di penangkaran. Hampir tidak ada yang lahir. Betina hidup sekitar setengah dari kehidupan alami mereka, lebih dari separuh gajah di penangkaran mengalami obesitas. Mereka menderita masalah kaki, masalah kulit, tekanan mental," ucapnya seperti melansir BBC News.

Ia menegaskan bahwa sebenarnya projek pertama di dunia ini sebenarnya memiliki risiko besar. "Kami mencoba melakukan segalanya untuk mengurangi ketidaknyamanan bagi hewan-hewan ini,” pungkasnya.

Baca juga: PPKM Darurat, Berkebun Jadi Pilihan

Kawanan ternak yang beratnya 25 ton, akan dibawa dalam peti dengan dukungan dokter hewan, "Begitu mereka terbiasa berjalan masuk dan keluar dari peti, harapannya adalah supaya lebih mudah membawa mereka ke truk, dan ke penerbangan langsung ke Afrika," Jelasnya.

Aspinall mengatakan itu bisa memakan waktu hingga satu tahun setelah tiba sebelum hewan-hewan itu menetap dengan benar. Saat ini dua lokasi berbeda di Kenya sedang dipertimbangkan untuk proyek tersebut. Ia menambahkan "begitu mereka sampai di sana, mereka akan sangat bahagia, berkeliaran, bertemu gajah liar lainnya, berkembang biak. Saya pikir kita akan melakukan sesuatu yang baik di dunia jika kita bisa mencapai ini," tuturnya.

Dr Okita pun setuju dan sangat positif jika skema ini berhasil. Baginya pulang ke rumah selalu mendatangkan hal positif untuk spesies jenis apa pun.

Related News

Jagad Tani - Petaninya Milenial App Download

Free Sign & Download, Android App