• 28 September 2021

Tantangan Bagi Manusia Restorasi Ekosistem

uploads/news/2021/04/tantangan-bagi-manusia-restorasi-95151b29cce20ed.jpg
SHARE SOSMED

"Dalam kurun waktu 2015-2021 saat ini, pemerintah telah berupaya untuk terus melakukan pemulihan lahan dengan skala besar dengan total area tidak kurang dari 4,69 juta ha pemulihan lahan termasuk gambut dan mangrove"

JAKARTA – Para ilmuwan mengatakan bahwa sepuluh tahun ke depan ini akan menjadi yang paling penting dalam perang melawan perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati. Salah satunya, akan terjadinya kerusakan ekosistem besar-besaran di berbagai daerah yang disebabkan oleh ulah tangan manusia. Hal ini perlu adanya restorasi ekosistem.

Restorasi ekosistem ini berarti kegiatan memperbaiki ekosistem yang telah rusak sekaligus melindungi ekosistem saat ini. Cara ini termasuk melakukan berbagai kegiatan positif mulai dari meningkatkan karbon organik di tanah pertanian dan meningkatkan stok ikan di zona penangkapan berlebih hingga memulihkan laut yang tercemar. Di tahun 2021 ditandai dengan dimulainya Dekade PBB tentang Restorasi Ekosistem, dan menjadi salah satu kesempatan untuk membalikkan keadaan dalam mencegah, menghentikan, dan membalikkan degradasi ekosistem di seluruh dunia.

Baca Juga: Banyuwangi, Penyangga Cabai Rawit Nasional

Beragam perencanaan mungkin dapat mencegah, menghentikan, dan membalikkan degradasi ekosistem, tetapi semua usaha ini tidak akan berhasil hanya dilakukan oleh usaha perorangan. Perlu adanya tangan kebersamaan untuk mencapai tujuan tersebut. Jika tidak adanya pengembalian ekosistem, akan berdampak pada punahnya berbagai spesies hewan secara masal yang ada di Indonesia.

Rusaknya ekosistem ini tak hanya dapat berdampak negatif pada hewan, namun pada kemampuan manusia untuk mendapatkan penghasilan dan memenuhi kebutuhan pangan, bahkan mendorong pada angka kemiskinan yang semakin meningkat. Misalnya, ekosistem laut di kawasan Indo-Pasifik, Karibia, dan pantai barat Afrika berisiko besar untuk mengalami perubahan mendadak pada awal 2030-an. Dari perubahan ini, ratusan juta orang di sepanjang wilayah ini bergantung pada hasil tangkapan ikan sebagai sumber makanan utama. Selain itu, pendapatan ekowisata dari terumbu karang juga menjadi sumber pendapatan utama.

Jika ekosistem rusak, maka ekowisata pun akan ikut tak mendukung. Hal ini dapat mengancam kesejahteraan kehidupan manusia.
Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk restorasi ekosistem adalah dengan memanfaatkan pengalaman para petani dari generasi ke generasi. Dengan pengetahuan tradisional, pengakuan nilai lingkungan, dan rasa identitas budaya, para petani ini memiliki pengetahuan dan pengalaman unik tentang praktik dan metode pertanian yang baik untuk pelestarian ekosistem.

Baca Juga: Mencegah Penyakit Unggas dan Jeruk

Pengetahuan berbagai metode pertanian dari pertanian adat hingga pertanian modern diterapkan untuk membangun kembali ekosistem yang berkelanjutan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melahirkan agenda Dekade Restorasi Ekosistem (UN Decade on Ecosystem Restoration) 2021-2030 untuk mencegah, menghentikan dan membalikkan degradasi ekosistem di seluruh dunia.
“Ini menawarkan prospek untuk mengembalikan pohon dan hutan ke lanskap hutan yang terdegradasi dalam skala besar, sehingga meningkatkan ketahanan ekologi dan produktivitas,” ungkap Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, mengutip dari laman KLHK.

Menurut Siti, restorasi ekosistem merupakan salah satu solusi untuk krisis lingkungan saat ini. Berinvestasi dalam restorasi ekosistem, akan membantu pemulihan ekonomi dari pandemi dengan menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Dalam kurun waktu 2015-2021 saat ini, pemerintah telah berupaya untuk terus melakukan pemulihan lahan dengan skala besar dengan total area tidak kurang dari 4,69 juta ha pemulihan lahan termasuk gambut dan mangrove. Penanaman dimaksud ditujukan untuk peningkatan produktivitas hutan dan lahan yang terdegradasi.

Baca Juga: Merasakan Semangat Indurtrialisasi Pertanian NTB

Lingkungan yang sehat membutuhkan keterlibatan usaha dari semua lapisan masyarakat, sehingga masyarakat dapat mengatur dan mengelola lahan tempat mereka bergantung dengan lebih baik. Pemberdayaan masyarakat membantu memajukan solusi lokal dan mendorong partisipasi dalam restorasi ekosistem.

Related News

Jagad Tani - Petaninya Milenial App Download

Free Sign & Download, Android App