• 9 Agustus 2020

Budidaya Nanas di Lahan Karhutla

SHARE SOSMED

Tanam nanas ini sekaligus untuk mencegah kebakaran lahan, dan hasilnya pun lumayan.”

OGAN KOMERING ILIR - Lahan bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi kesempatan bagi anggota TNI bernama Serda Sutrasno untuk berbudidaya nanas. Sejak 2014 lalu, Serda Sutrasno memulai ‘angkat senjata’ dengan senjata barunya, kayu dan golok untuk menanam serta memanen nanas.

“Tanam nanas ini sekaligus untuk mencegah kebakaran lahan, dan hasilnya pun lumayan,” kata Sutrasno memulai pembicaraan, Rabu (6/11) kemarin.

Menurut Sutrasno, bukan hal yang mudah untuk berbudidaya nanas. Saat panen pertama, Sutrasno harus menunggu 14 bulan untuk mendapatkan pundi-pundi rezeki. Walaupun hasilnya tak memuaskan, namun ia tetap berusaha membudidayakan nanas. Ini karena keterbatasannya mengenai pengetahuan budidaya nanas menjadi faktor utama.

Selain itu, sisa lahan yang ada untuk menanam nanas di atas bekas kebakaran hutan dan lahan juga menjadi kendala. Sutrasno yang juga seorang bintara pembina desa (Babinsa) di Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, mengaku jika ide menanam nanas datang dari Badan Restorasi Gambut (BRG). Karena, mereka selalu pusing setiap tahunnya, lahannya tersebut selalu terbakar, maka Sutrasno memutuskan untuk membudidayakan nanas.

"Selain panennya bagus, sejak 2016 tidak ada kendala dan paling utama tidak ada kebakaran lahan lagi di wilayah saya," ungkapnya.

Awalnya, ia hanya bermodal lahan sekitar dua hektare yang didapatnya dari hasil menjual rumah dan sedikit bantuan dari BRG. Tapi kini, Sutrasno sudah memiliki lahan sekitar delapan hektare, yang setiap satu hektare-nya ditanam bibit nanas sebanyak 23.000 tanaman.

"Sekarang bisa panen per dua minggu sekali, untuk menjual hasil panen terkadang dijual di pinggir jalan, selain itu dijual ke Bengkulu, Jakarta dan Bandung," ungkapnya.

Untuk harga nanas juga beragam, tergantung tipe buah nanas tersebut, untuk tipe A dijual satuannya Rp3.000, tipe B Rp2.000, serta tipe C Rp1.000. Nantinya, ia akan menjual nanas hasil panennya dalam bentuk olahan, seperti keripik, selai dan sirup. Menurutnya, hal itu berguna untuk mengangkat harga jual.

"Ya kalau harga memang terlampau murah, beda dengan nanas dari daerah lain, karena itulah saya mengambil inisiatif untuk mencoba dijual dalam bentuk olahan," tutupnya. (SM)

Comment

Related News

Jagad Tani App Download

Free Sign & Download, Android App