• 28 September 2021

Mengembalikan Kejayaan Jeruk Keprok Grabag

uploads/news/2021/02/mengembalikan-kejayaan-jeruk-keprok-68938418289ff78.jpg
SHARE SOSMED

Pada 1980-an, ada ratusan ribu tanaman jeruk keprok grabag, namun kini tanaman jeruk ini sangat langka.

JAKARTA - Adakah Sahabat Tani yang pernah memakan jeruk keprok grabag?

Jeruk keprok grabag memiliki rasa manis segar, sedikit asam, dan aroma yang khas, serta kadar jus yang tinggi.

Dahulu jeruk ini pernah menjadi buah favorit untuk konsumsi di Istana Negara.

Sayangnya, varietas keprok grabag di daerah asalnya, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, pun sudah mulai menghilang.

Baca juga: Cara Menanam Jeruk dalam Pot

Keprok grabag di daerah asalnya dari dulu sampai sekarang hanya merupakan tanaman pekarangan dan belum dikembangkan secara luas atau dalam lingkup kawasan terpadu.

Pada 1980-an, ada ratusan ribu tanaman jeruk keprok grabag, namun kini tanaman jeruk ini sangat langka.

Melansir Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian (Kementan), kelangkaan tersebut disebabkan karena serangan penyakit Huanglongbing (HLB) atau masyarakat mengenalnya dengan nama citrus vein phloem degeneration (CVPD), penyakit yang sampai saat ini belum ditemukan obatnya.

Penyakit ini juga masih menjadi momok bagi petani jeruk dunia.

Beberapa negara bahkan sampai meluncurkan program khusus untuk mengatasi penyakit mematikan ini.

Di Indonesia, program rehabilitasi terhadap jeruk keprok grabag sudah sering dilaksanakan, namun penyakit ini masih menginfeksi ulang, karena sumber-sumber penyakit masih terdapat di daerah sentra.

Strategi pengendalian hama dan penyakit di kebun jeruk pun telah diformulasikan dalam pengelolaan terpadu kebun jeruk sehat (PTKJS) dengan dukungan dari Balitbangtan dan upaya menanam kembali keprok grabag

Hilangnya jeruk keprok grabag di pasaran dan di tengah serbuan jeruk impor, membuat risau anggota Komisi IV DPR RI dari Dapil Magelang, Vita Ervina.

Ia berharap Kementan turun tangan untuk membangkitkan kembali kejayaan jeruk keprok grabag.

Balitjestro yang mendapatkan mandat dalam menangani riset dan pengembangan jeruk, merespon apa yang menjadi kegalauan masyarakat tersebut.

Menurut Balitjestro, usaha untuk membangkitkan jeruk keprok grabag sudah pernah dilakukan, namun belum mendapatkan hasil yang menggembirakan.

Meski demikian, Vita pun mengharapkan Balitbangtan juga memperhatikan komoditas buah-buahan, khususnya jeruk.

Menurutnya, kawalan dan pendampingan sangat diperlukan, agar petani dan masyarakat mampu sukses bertanam jeruk.

Balitjestro dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jateng juga telah berkolaborasi dengan kepala desa dan kelompok tani setempat untuk mengembalikan kembali kejayaan keprok grabag.

Program ini diawali dengan membuat demplot jeruk keprok grabag di lokasi yang direncanakan sebagai agroeduwisata (AEW) di Desa Pagergunung, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang.

Kepala Balitbangtan, Fadjry Djufry menyatakan, siap mendukung penuh pengembangan jeruk keprok grabag dengan mendiseminasikan benih bebas penyakit untuk ditanam oleh masyarakat.

Menurutnya, kunci awal keberhasilan agribisnis jeruk dimulai dari ketersediaan benih berkualitas yang berlabel biru.

Selain itu, Kepala Balitjestro, Harwanto, menyatakan kesiapannya dalam memberikan dukungan teknologi dengan pembuatan demplot jeruk.

Balitbangtan juga akan mengalokasikan benih diseminasi varietas keprok grabag sebanyak 1.000 batang, yang akan ditanam di daerah calon lokasi AEW yaitu Desa Pagergunung dan Desa Pandean.

Potensi pengembangan di dua desa tersebut dianggap dapat mencapai ratusan ribu tanaman.

Keprok grabag sendiri telah terdaftar varietasnya dalam SK Menteri Pertanian No.599/Kpts/SR.120/2007.

Varietas ini memiliki ciri bentuk buah bulat dengan ukuran 95-165 gram per buah.

Baca juga: Kisah di Balik Jus Jeruk

Warna daging buahnya oranye dengan rasa manis sedikit asam dan teksturnya berserat.

Buah yang memiliki warna oranye ini juga adaptif untuk ditanam di dataran tinggi antara 800-1200 meter di atas permukaan laut.

Produktivitasnya cukup tinggi yaitu 60-80 kilogram.

Dengan keunggulannya, buah ini mempunyai potensi untuk dikembangkan kembali di tempat asalnya.

Related News

Jagad Tani - Petaninya Milenial App Download

Free Sign & Download, Android App