• 12 Juli 2020

Merawat Si Naga Organik

uploads/news/2019/09/merawat-si-naga-organik-9754343a96cbc8a.jpg
SHARE SOSMED

Buah naga memiliki keistimewaan, selain rasanya yang manis, tanaman yang satu ini juga kuat dan tumbuh dengan cepat.

 

YOGYAKARTA – Sahabat tani pasti tidak asing dengan buah naga, yang banyak dikenal dan sudah tidak asing lagi di pertanian Indonesia. Buah yang berasal dari Meksiko ini tergolong tanaman yang istimewa. Karena, menurut pemilik Kebon Naga, Purnama Jaya (49), buah naga memiliki ketahanan yang kuat dan pertumbuhan yang cepat.

Selain itu, produktivitas buah naga juga tinggi sehingga masa panen juga relatif lebih cepat dibandingkan dengan buah lainnya. Buah naga bias dipanen setelah 7 hingga 12 bulan setelah tanam. Apalagi, buah naga yang ditanam dengan sistem organik akan meningkatkan hasil produksi. Walau begitu, buah naga organik juga harus melewati serangkaian perawatan agar mendapatkan hasil yang maksimal.

“Buah naga yang ditanam secara organik itu tenaga kerjanya sama dengan buah naga non organi, tapi hasil produksinya lebih banyak. Makanya, di Kebon Naga ini saya pakai sistem organik,” kata Purnama.

Salah satu faktor kesuksesan dalam budidaya buah naga yaitu dari sumber bibit yang bagus. Dalam pemilihan sumber bibit ini, Purnama menggunakan bibit dari kebun buah naganya yang sudah tersertifikasi. Bahkan, di Kebon Naga miliknya, seluruh tanaman memiliki nomor registrasi di Kementerian Pertanian.

Untuk kriteria bibit teregistrasi harus berasal dari sumber benih yang bagus. Benih yang bagus berasal dari tanaman berumur lebih dari tiga tahun dengan pola pemeliharaan tanaman secara organik. Bibit bersertifikat memang memiliki harga yang lebih mahal.

Meski begitu, secara kualitas bibit bersertifikat lebih unggul dan memiliki produktivitas yang tinggi. “Jika memilih bibit yang tidak bersertifikat pasti lebih murah, namun kadang usia benih belum ckup untuk disemai tapi dipaksakan. Memang dia akan mengeluarkan akar dan tunas, tapi produktivitasnya rendah,” jelasnya.

Untuk menanam buah naga, seperti bercocok tanam pada umumnya, lahan harus dibersihkan sebelum budidaya buah naga. Setelah itu, menyiapkan tiang panjat untuk menopang batang tanaman agar tidak mudah roboh. Tiang juga harus terbuat dari beton dengan Panjang berukuran 1,5-2 meter. Hal ini agar mudah dijangkau saat melakukan perawatan tanaman.

Kemudian, langkah selanjutnya yaitu membuat lubang sedalam 50 cm untuk tiang panjat dengan jarak tanam ideal 2x4 m2. Jarak tana mini dipilih agar memudahkan dalam pemeliharaan, seperti saat mengangkut pupuk pada masa pemupukkan dan memudahkan dalam mengangkut hasil panen.

Setelah itu, memindahkan bibi bua naga dari media semai ke media ke media tanam. Saat menanam, pastikan akar buah naga tidak dipendam terlalu dalam di dalam tanah. Bahkan, Purnama hanya menanamnya di permukaan tanah saja. Satu tiang bisa ditanami sekitar empat bibit buah naga dengan jarak tanam 10 cm di sekitar tiang.

Setelah keempat bibit ditanam, ikat bibit tersebut hingga menempel pada tiang panjat. Pengikatan ini dilakukan agar tanaman bisa tumbuh hingga 20-30 cm. Pengikatan upayakan jangan terlalu kuat agar tanaman memiliki ruang gerak dan tidak melukai bibit tanaman.

Buah naga juga memerlukan sinar matahari yang cukup banyak. Maka, lahan budidaya buah naga harus ditempat di lahan terbuka. Selain itu, buah naga juga memerlukan pupuk yang banyak. Semakin banyak pupuk, maka tunas buah naga juga semakin banyak. Dengan begitu, maka hasil produksi juga semakin meningkat.

Untuk pupuk, Purnama sendiri menggunakan pupuk organik yang ia dapatkan dari kotoran ternak miliknya. Purnama juga menerapkan pertanian terpadu. Selain budidaya buah naga, ia juga berternak kambing. Sehingga kotoran kambing dapat dijadikan pupuk dan gulma tanaman (rumput teki) bisa dijadikan makanan untuk kambing.

Selain memerlukan sinar matahari dan pupuk, buah naga juga memerlukan air yang cukup. Penyiraman biasanya dilakukan selama satu atau dua minggu sekali. Namun, saat cuaca kemarau ekstrem, maka dilakukan penyiraman dua kali dalam satu minggu.

Karena ketahanan buah naga memang sangat baik, maka musim hujan tidak menjadi halangan bagi buah naga untuk tetap tumbuh. Setelah melalui proses pemilihan bibit, penanaman, hingga perawatan yang baik, buah naga akan memasuki masa panen pada November setiap tahunnya. Buah naga bisa dipanen selama lima bulan hingga April. Selama masa panen ini, satu tiang biasanya dapat menghasilkan 50 kg buah naga.

Comment

Related News

Jagad Tani App Download

Free Sign & Download, Android App