• 29 September 2021

Berkaca dari Budidaya Lobster Vietnam

uploads/news/2020/11/berkaca-dari-budidaya-lobster-596234ae14c4c5b.jpg
SHARE SOSMED

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mempercepat pengembangan budidaya lobster adalah mengetahui teknik budidaya yang telah dilakukan dan aspek lain yang terkait dengan budidaya lobster di negara yang telah berkembang budidaya lobsternya.”

JAKARTA - Budidaya lobster air laut (Panulirus sp.) belum banyak dilakukan di Indonesia, karena baru dimulai pada 2000 di Nusa Tanggara Barat.

Budidaya lobster di Indonesia sendiri sudah di lakukan di Aceh, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.

Meski demikian, perkembangan budidaya lobster masih tergolong lambat.

Baca juga: Sengkarut Ekspor Benih Lobster

Padahal, Indonesia memiliki potensi sumber daya alam untuk mengembangkan budidaya laut, termasuk budidaya lobster.

Salah satu negara yang telah berkembang budidaya lobsternya dan masih memiliki kemiripan iklim dengan Indonesia yaitu Vietnam.

Budidaya lobster di Vietnam dimulai sejak 1992 di Kota Nha Trang, Provinsi Khanh Hoa, dan menyebar ke provinsi lainnya, terutama di Provinsi Phu Yen dan Ninh Thuan.

Di Indonesia sendiri, dukungan penelitian dan pengembangan budidaya lobster telah dilakukan oleh Australian Centre for Internationl Agricultural Research (ACIAR) melalui proyek “Spiny Lobster Aquaculture Development in Indonesia, Vietnam, and Australia.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mempercepat pengembangan budidaya lobster adalah mengetahui teknik budidaya yang telah dilakukan dan aspek lain yang terkait dengan budidaya lobster di negara yang telah berkembang budidaya lobsternya,” tulis peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Akhmad Mustafa dalam jurnal berjudul “Budidaya Lobster di Vietnam dan Aplikasinya di Indonesia.”

Menurut Mustafa, permintaan lobster terutama jenis lobster mutiara sudah dimulai oleh China sejak awal 1980-an.

Hal itu pun memicu peningkatan penangkapan lobster di Vietnam.

Hingga awal 1990-an, sebagai akibat dari tekanan penangkapan dan kurangnya aturan-aturan pengelolaan, menyebabkan penurunan hasil dan ukuran lobster hasil tangkapan,” tulisnya.

Karena itu, nelayan Vietnam pun berinisiatif untuk memelihara lobster berukuran kecil hasil tangkapan hingga ukuran sesuai pasar, dengan metode dan peralatan yang bersifat sementara dan menunjukkan jika lobster dapat tumbuh dalam kurungan yang ditempatkan di perairan dasar pantai,” tambahnya.

Budidaya lobster pun dimulai pada 1992 di Vietnam, tepatnya di Desa Xuan Tun, Kecamatan Van Ninh, Kota Nha Trang.

Di tahun tersebut, budidaya lobster dalam keramba jaring apung hanya dilakukan oleh lima kepala keluarga (KK).

Setidaknya ada delapan jenis lobster yang ditemukan, tetapi hanya tiga diantaranya yang dapat dibudidayakan, yaitu lobster mutiara, pasir, dan batik.

Pada 1993, budidaya lobster sudah dilakukan oleh 100 KK dan pada 2003 menjadi 500 KK. Setiap KK mengusahakan 10 keramba yang dipasang pada 1 unit rakit,” jelasnya.

Produksi lobster di Vietnam pun meningkat sejak 1992 dan mencapai puncaknya pada 2006.

Namun, serangan penyakit susu (milky haemolymph

disease) pada akhir 2006, menyebabkan kematian lobster

yang menyebabkan terjadinya penurunan produksi pada 2007. “Puncak produksi lobster hasil budidaya di Vietnam mencapai 1.900 ton pada 2006 dan menurun menjadi 1.400 ton pada 2007 sebagai akibat serangan penyakit susu pada akhir 2006,” jelasnya.

Peningkatan terjadinya serangan penyakit susu pada lobster merupakan akibat dari rendahnya kualitas benih lobster yang ditebar atau stadia benih yang masih kecil, diangkut dari tempat

yang jauh dan ditangkap dengan metode penangkapan yang

berbahaya dengan menggunakan cahaya intensitas tinggi.

Selain itu, kualitas air yang rendah yang merupakan akibat peningkatan jumlah keramba dan penggunaan ikan rucah sebagai pakan juga ikut menjadi penyumbang penyebab munculnya penyakit susu.

Penyakit lainnya yang telah menyerang lobster budidaya di Vietnam yaitu penyakit badan merah atau red body disease dan penyakit insang hitam atau black gill disease, namun tingkat serangannya lebih kecil daripada penyakit susu.

Untuk mengantisipasi penyakit susu, Mustafa pun menyarankan agar pembudidaya lobster menggunakan pakan buatan berupa moist pellet.

Upaya pencegahan penyakit susu dan perlakuan-perlakuan praktis untuk mencegah perkembangan serangan penyakit susu juga perlu mendapat perhatian,” tuturnya.

Baca juga: Cara Mengembangkan Budidaya Lobster Nasional

Selain itu, perkembangan budidaya lobster yang begitu cepat, nantinya akan memicu terjadinya penurunan daya dukung lahan.

Karena itu, kegiatan untuk menentukan daya dukung lahan dan kesesuaian lahan menjadi penting dilakukan untuk menentukan lokasi dan jumlah keramba jaring apung yang dapat dioperasikan.

Penentuan daya dukung lahan dan kesesuaian lahan tidak hanya dilakukan pada daerah yang sudah berkembang pesat seperti di Vietnam, tetapi juga pada daerah yang baru memulai pengembangan budidaya lobsternya seperti di Indonesia untuk menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan penurunan produksi dan ketidakberlanjutan usaha budidaya lobster di masa akan datang,” tutupnya.

Related News

Jagad Tani - Petaninya Milenial App Download

Free Sign & Download, Android App