• 28 September 2021

Dampak La Nina bagi Nelayan

uploads/news/2020/11/dampak-la-nina-bagi-25490a0202c8676.jpg
SHARE SOSMED

Kejadian La Nina akan sangat berdampak kepada aktivitas dan penghasilan nelayan Indonesia yang berjumlah sekitar 2,7 juta jiwa.

JAKARTA - Pengurus Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) yang juga dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) University di Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (ITK-FPIK), Dr. Bisman Nababan, mengungkapkan pengaruh dari fenomena La Nina pada aktivitas nelayan. 

Baca juga: MKP Ajak Milenial menjadi Nelayan

Kejadian La Nina akan sangat berdampak kepada aktivitas dan penghasilan nelayan Indonesia yang berjumlah sekitar 2,7 juta jiwa. Hampir 90% nelayan Indonesia merupakan nelayan kecil dengan kapasitas kapal atau perahu kurang dari 5 gross ton (GT),” ujarnya dalam keterangan resmi IPB, Rabu (4/11).

Akibat rendahnya kapasitas dan kemampuan perahu atau kapal nelayan ini, lanjutnya, kegiatan nelayan Indonesia akan sangat tergantung kepada kondisi cuaca.

Umumnya bila kondisi cuaca banyak turun hujan, yang diikuti dengan relatif tingginya gelombang air laut, maka nelayan menjadi takut dan enggan melaut,” tuturnya.

La Nina sendiri merupakan fenomena anomali iklim dunia yang secara umum mengakibatkan banyak curah hujan di wilayah Indonesia.

Kejadian La Nina dapat diprediksi melalui perbedaan tekanan udara di wilayah Tahiti dan Darwin.

Jika perbedaan tekanan udara di kedua wilayah ini lebih dari 10, maka kondisi cuaca dapat dikategorikan ke dalam kejadian La Nina.

Sebaliknya, bila nilai perbedaan tekanan udara pada kedua wilayah tersebut kurang dari minus 10, maka kondisi cuaca dapat dikategorikan kepada kejadian El Nino Southern Oscillation (ENSO).

Dalam penelitiannya, ia juga menjelaskan, jumlah tangkapan ikan di Pelabuhan Ratu, Provinsi Jawa Barat, terlihat relatif lebih rendah pada bulan-bulan saat La Nina dibandingkan dengan bulan-bulan normal dan bulan-bulan El Nino.

Menurutnya, hal itu dikarenakan kandungan konsentrasi klorofil-a di perairan Pelabuhan Ratu dan sekitarnya juga menunjukkan nilai yang lebih rendah pada saat La Nina dibandingkan pada bulan normal dan bulan El Nino. 

Dengan demikian, untuk mengantisipasi kekurangan pasokan ikan akibat kejadian La Nina ini maka pemerintah perlu mengambil langkah-langkah strategis sekarang dan di masa depan. Seperti penyediaan informasi yang akurat dan real time tentang kondisi cuaca, angin, dan tinggi gelombang. Informasi ini harus up to date dan dapat berskala regional atau provinsi serta dapat diakses oleh seluruh nelayan di Indonesia,” tutur Bisman.

Untuk itu, menurutnya perlu peran dari semua stakeholder terkait, khususnya pemerintah, untuk dapat mengedukasi para nelayan yang relatif memiliki tingkat pendidikan rendah.

Baca juga: Waspada Dampak dari La Nina

Edukasi tersebut terkait informasi terkini dengan memberikan training kepada para nelayan, khususnya terkait Internet of Things (IoT).

“Di samping itu, pemerintah perlu meningkatkan atau memberikan subsidi kepada nelayan agar para nelayan dapat memiliki kapal berkemampuan besar (lebih dari 30 GT) sehingga mereka tidak selalu bergantung kepada kondisi cuaca. Dengan semakin meningkatnya kemampuan perahu atau kapal nelayan untuk mengambil ikan di laut lepas, maka pasokan ikan akan semakin besar dan semakin meningkatkan devisa dari perikanan dan kelautan kita,” pungkasnya.

Related News

Jagad Tani - Petaninya Milenial App Download

Free Sign & Download, Android App