• 29 September 2021

Lima Komoditas Cegah Stunting

uploads/news/2019/10/lima-komoditas-cegah-stunting-572238cfc1cfd64.jpg
SHARE SOSMED

“Indonesia masih punya pekerjaan rumah terkait penanganan stunting dan perlu percepatan lewat penyediaan produk pangan fungsional.”

BALI – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tengah mengembangkan lima komoditas pertanian yaitu teh, kakao, singkong, pisang, dan manggis sebagai pakan fungsional untuk mencegah stunting. “Indonesia masih punya pekerjaan rumah terkait penanganan stunting dan perlu percepatan lewat penyediaan produk pangan fungsional. Lima komoditas tadi punya ketersediaan bahan baku melimpah serta potensi besar untuk dikembangkan,” kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Agus Haryono di Denpasar, Bali belum lama ini.

Dalam keterangan tertulisnya, menurut Agus, Indonesia sebagai salah satu negara mega biodiversity di dunia dikaruniai keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. “Keanekaragaman hayati ini berpotensi untuk dimanfaatkan menjadi sumber pangan fungsional bagi peningkatan kesehatan juga kesejahteraan masyarakat,” kata Agus.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI, R. Arthur Ario Lelono menjelaskan mengenai keberadaan pangan fungsional yang penting untuk melengkapi makanan pokok yang nilai nutrisinya masih belum memadai. “Kita tidak bisa menggantikan makanan pokok seperti nasi sehingga perlu memberikan tambahan nutrisi lewat pangan fungsional,” ujar Arthur.

Menurut Arthur, kekayaan alam Indonesia lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan nutrisi yaitu teh. “Teh sangat baik untuk diet, selain itu berfungsi sebagai antioksidan, penurun kolesterol, peningkat metabolisme tubuh, penjaga kesehatan tulang, dan pencegah diabetes,” katanya. Saat ini LIPI juga sedang mengembangakan produk klon unggul teh seri Gambung.

“Teh ini berpolifenol tinggi cocok digunakan sebagai bahan baku minuman fungsional untuk menurunkan risiko obesitas,” tambahnya.

Agar nikmat dikonsumsi, konsumen bisa melakukan proses fortifikasi dengan rasa lebih baik dan bisa dikonsumsi rutin layaknya teh pada umumnya. “Daun salam ditambahkan sebagai salah satu pengawet alami serta kayu manis untuk meningkatkan keterterimaan rasa dari konsumen,” tuturnya.

“LIPI juga melakukan formulasi dan identifikasi asam folat dari campuran nikstamal jagung , bayam dan brokoli terfermentasi, dan tempe kedelai dan kacang hijau,” ungkap Arthur. IA juga menjelaskan, formasi tersebut diaplikasikan pada pembuatan pangan fungsional berupa biskuit, bubur, dan sup bayi dengan variasi jenis dan konsentrasi fortifikan yang berbeda dalam formulasi produk makanan pendamping ASI.

Related News

Jagad Tani - Petaninya Milenial App Download

Free Sign & Download, Android App