• 29 September 2021

Mangrove di Ujung Sungai Cisadane

uploads/news/2020/10/mangrove-di-ujung-sungai-204470a02cac140.jpg
SHARE SOSMED

Karena yang ingin kita bangun sebuah ekosistem dalam lingkungan besar, tidak hanya di desa, tetapi juga di desa-desa sekitar Tangerang.

TANGERANG - Hutan mangrove atau bakau, dikenal sebagai sumber ekosistemnya yang baik untuk lingkungan.

Selain memiliki keindahan, hutan mangrove bermanfaat sebagai sumber daya laut yang dapat mengeluarkan kadar racun yang ada di endapan lumpur.

Hutan mangrove merupakan hutan yang menggunakan air payau sebagai zat kelangsungan pertumbuhan.

Baca juga: Inovasi Guludan untuk Rehabilitasi Mangrove

Keberadaannya sendiri telah memberikan sejumlah manfaat untuk penduduk sekitar.

Bila tidak ada hutan mangrove, penduduk yang tinggal di sekitar pantai akan merasakan abrasi.

Abrasi merupakan proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak.

Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai.

Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini, dipacu oleh terganggunya keseimbangan alam daerah pantai tersebut.

Walaupun abrasi bisa disebabkan oleh gejala alami, tetapi manusia sering disebut sebagai penyebab utama abrasi.

Salah satu cara untuk mencegah terjadinya abrasi yaitu dengan penanaman hutan mangrove.

Hutan mangrove sangat bermanfaat agar tidak terjadi pengikisan pantai.

Pengikisan pantai dapat berakibat daratan sekitarnya tergenang air.

Jenis tanaman mangrove pun banyak, mulai dari Acanthus ilicifolius, Bruguiera Cyilindrica, Acrostischum aureum dan masih banyak lainnya.

Hutan mangrove sendiri bisa Sahabat Tani temukan di ujung Sungai Cisadane, Kelurahan Tanjung Burung, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.

Di sana, Sahabat Tani bisa berwisata edukasi mangrove yang dibuat oleh komunitas Tabur Mangrove (TM).

Menurut Ketua RTM, Muhammad Guntur, hutan mangrove sangat penting bagi warga pesisir pantai.

Saya ini adalah korban dari rusaknya kualitas air di pesisir ini. (Hutan mangrove) sangat berpengaruh besar pada perikanan pesisir pantai,” jelasnya saat ditemui tim Jagadtani.id, belum lama ini.

Tanaman Mangrove yang ditanam di Tanjung Burung berjenis Bruguiera Cyilindrica, yang bisa dibilang langka.

Ia mengaku memilih tanaman tersebut, lantaran cocok untuk ditanam di lingkungan sekitar pantai.

Selain untuk wisata, RTM juga menjadikan tempat edukasi mangrove untuk kegiatan belajar sekolah maupun kuliah.

RTM sendiri dibentuk oleh sekumpulan remaja yang tinggal di lokasi tersebut, dengan tujuan untuk mengenalkan dan mengedukasi jika hutan mangrove memiliki pengaruh besar untuk penduduk pesisir pantai, serta keberadaanya yang dibutuhkan penting untuk dipelajari.

Baca juga: Memantau Kondisi Mangrove lewat Aplikasi

Di Tangerang saja ekosistem mangrove sudah begitu rusak. Dari situ saya berpikir untuk membuat komunitas, buat paguyuban seperti forum-forum yang nanti pada waktu tertentu kita tanam-tanam bersama, melakukan persemaian bersama, dan dari situ saya punya inisiatif untuk menamai Tabur Mangrove ,” ucapnya.

Ia mengaku memiliki impian untuk dapat menebar bibit mangrove di seluruh Provinsi Banten.

Karena yang ingin kita bangun sebuah ekosistem dalam lingkungan besar, tidak hanya di desa, tetapi juga di desa-desa sekitar Tangerang,” tutupnya.

Related News

Jagad Tani - Petaninya Milenial App Download

Free Sign & Download, Android App