• 27 Januari 2021

Cupang Alam yang Masih Dilirik

uploads/news/2020/10/cupang-alam-yang-masih-58320c213c69d66.jpg
SHARE SOSMED

Tapi si cupang alam meski pun dilupakan akan selalu ada diminati para pehobi klasik.”

BOGOR - Cupang, salah satu ikan air hias tawar yang kini makin digandrungi hampir seluruh kalangan, ternyata menyisakan cerita tentang asal muasal ikan bernama latin betta splendens tersebut. 

Di kalangan penggemarnya, predator kecil ini terbagi atas tiga genus, antara lain cupang aduan, cupang hias (plakat, halfmoon, crowntail), dan cupang alam.

Baca juga: Blue Rim yang Mempesona

Menurut salah seorang praktisi ikan cupang asal Kota Bogor, Erick Prayoga, secara umum, ada 60 jenis cupang alam di seluruh penjuru dunia.

Namun, ikan dari golongan ini hanya mendominasi Asia Tenggara seperti Thailand, Myanmar, Laos, Vietnam, Malaysia, Brunei dan Indonesia.

Di Indonesia sendiri, lanjut Erick, terdapat paling tidak 10 jenis cupang alam.

Warna dan kesan 'sangar' tak kalah dengan cupang-cupang yang ramai di pasaran.

"Dari pengalaman dan sharing sesama beberapa pehobi di beberapa kota ada banyak jenisnya. Di Kalimantan, ada

betta rubra, betta channoides, betta patoti, betta enisae, betta unimaculata, betta bellica, betta foerschi, betta simorum, sama betta hendra," ujarnya kepada Jagadtani.id baru-baru ini.

"Di Sumatera punya betta Imbellis yang badan, ekor sama posturnya ikan aduan banget. Di kita (Pulau Jawa) ada betta picta yang sekarang sepertinya agak susah ditemukan," imbuhnya.

Meski pun terkesan dilupakan, kata dia, ikan ini memiliki harga jual yang tinggi, mengingat sulitnya didapatkan atau berburu di alam bebas.

"Iya, agak sulit sekarang, kalau pun ada harganya mahal," sebutnya.

Akan tetapi, kini beberapa pehobi dan petani mulai melakukan captive breed, untuk mempertahankan genetik yang mungkin bisa saja punah karena minimnya habitat dan populasi di Indonesia. 

"Pehobi sekarang mulai membudidayakannya, mereka beli hasil tangkapan dari alam. Kemudian diadaptasikan, di-treatment juga, setelah memasuki masa kawin, mereka pijah. Jangan kalah sama Thailand ya, orang-orang di sana sudah punya hybrid alien dengan proporsi badan sempurna, sisik naga yang dominan dan beragam warna, mulai hijau, silver, biru, dan copper," beber Erick.

Menurutnya, tren ikan cupang warna-warni seperti jenis fancy, marble, koi, blue rim akan terus menurun, mengingat inovasi dan genetik warna yang akan selalu bermunculan. 

"Jadi pasarnya selalu berganti kalau saya lihat. Dua atau tiga tahun lalu ada koi galaksi, kemudian nemo, sekarang ada avatar dan black series. Tapi si cupang alam meski pun dilupakan akan selalu ada diminati para pehobi klasik," sebutnya. 

Ia juga menuturkan, di event-event kontes seperti International Betta Congress (IBC) cupang alam sudah masuk kategori kelas khusus, yaitu wild betta dan dibagi dua klasifikasi. 

Pertama, yaitu bubblenester atau cupang yang berkembangbiak dengan gelembung busa.

Kedua, mouthbrood atau cupang yang berkembang biak dengan mengasuh telur dan anakannya menggunakan mulut atau tanpa gelembung busa. 

"Jelas, ikan ini akan meningkat pasarnya, sebab di kontes IBC sudah ada kelas dan klasifikasinya. Ikan tersebut dikonteskan satu pasang untuk satu nomor, jadi satu toples atau soliter ada jantan sama betinanya," katanya. 

Baca juga: Melirik Pesona Avatar Vampire

Erick juga menilai, kepuasan pehobi sebetulnya bukan dari merawat ikan saja, akan tetapi juga gelar prestisius dari sebuah event. 

"Iya betul, tidak cuma rawat dan dibesarkan itu ikan, kita bisa belajar dari sebuah kontes. Sebab ikan cupang tidak lebih jadi sebuah mainan anak kalau tidak ada sebuah kompetisi," tutupnya.

Comment

Related News

Jagad Tani App Download

Free Sign & Download, Android App