• 20 September 2021

Memancing Emas Di Kolam Lele

uploads/news/2019/09/memancing-emas-di-kolam-1885437e5a767fe.jpg
SHARE SOSMED

Selain menguntungkan, membudidayakan lele organik juga tidak rumit.

 

KLATEN - Kalau sahabat tani ingin usaha budidaya ikan lele, bisa jadi pilihan yang tepat karena sangat menguntungkan, karena tingkat konsumsi ikan lele masih tinggi di Indonesia. Selain itu, budidaya lele juga tidak membutuhkan perawatan yang rumit. Pemasaran dan modal yang dikeluarkan juga relatif rendah serta dibudidayakan di lahan yang sempit.

Modal terbesar budidaya lele terdapat pada kebutuhan pakannya. Namun, saat ini budidaya lele bisa dilakukan secara organik, sehingga dapat menekan biaya kebutuhan pakan lele. Hal ini sudah dirasakan oleh Samto (67), warga Klaten yang melakukan budidaya lele secara organik.

Lele organik sendiri berbeda dengan lele pada umumnya. Dari segi rasa, lele organik lebih gurih dan tidak berbau tanah ketika dimakan. Hal itu dikarenakan sistem budidaya yang lebih bersih dan pakan yang difermentasi terlebih dahulu atau yang disebut dengan “bioflok.”

Bioflok merupakan gabungan dari kata “bios” (kehidupan) dan “flock” (gumpalan) yang berarti kumpulan dari berbagai organisme seperti bakteri, mikroalga, protozoa, ragi, dan sebagainya yang tergabung dalam gumpalan. Menurut Samto, penggunaan bioflok dapat menghemat biaya pakan hingga 40%.

Selain pakan, tempat hidup lele juga harus diperhatikan. Dalam budidaya lele organik, bibit tidak bisa langsung ditebar. Kolam sebagai rumah bagi lele harus dibersihkan terlebih dahulu. Samto sendiri menggunakan kolam yang terbuat dari terpal dengan diameter 2 m2 dan tinggi 105 m2.

Kolam dibersihkan dengan menggunakan air setinggi 60 cm dan dicampur dengan garam grasak 2 kg serta gamping 2 kg yang dicairkan. Kemudian, direndam hingga satu hari satu malam, lalu dicuci. Hal ini berfungsi untuk menetralisasi bahan-bahan kimia yang terdapat di dalam terpal.

Setelah kolam bersih, diberi air lagi setinggi 60 cm, lalu tambahkan setengah liter bioflok dan teteskan tebu yang telah diencerkan ke dalam kolam. Tunggu tiga hari hingga probiotik dalam bioflok hingga mengeluarkan plankton, barulah setelah itu kolam diberi bibit ikan lele.

Untuk pemberian air disesuaikan pada usia ikan. Jika usia ikan sudah satu bulan, tambahkan air hingga 80 cm. Setelah masuk usia konsumsi, tambahkan air lagi hingga 90 cm. Santo juga menambahkan jika ia selalu menjaga kebersihan air kolam dengan mengurangi dan menambahkan air setiap dua hari sekali.

Hal itu dilakukan agar kesehatan ikan tetap terjaga. Dalam seminggu sekali, lele juga harus dipuasakan. “Semisal lele dikasih makan pagi hari, besok paginya lagi baru dikasih makan. Biar lele makan plankton dari bioflok dulu,” kata Samto.

Samto juga menjelaskan jika ia menggunakan oksigen di dalam kolam lelenya. Menurutnya, pemasangan oksigen dilakukan agar sisa-sisa makanan tidak mengendap dan membuat ikan tidak stres. Selain itu, kolam ikan lele organik juga tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung.

Karena itu, Samto juga memasang genting di atas kolam. Hal ini juga untuk menghindari air hujan agar tidak masuk ke dalam kolam. Sehingga air tetap terjaga kebersihannya. Lele dalam satu kolam juga harus dipisahkan ketika sudah berumur satu bulan. Pemisahan ini dilakukan agar tumbuh kembang lele bisa terjaga, sehingga lele bisa dipanen bersama-sama.

Dari segi masa panen, lele organik dapat dipanen setelah dua setengah bulan bibit ditebar. Masa panen ini juga dari ukuran bibit, semakin besar, maka akan semakin cepat dipanen. Menurut Samto, awalnya ia membudidayakan lele dengan cara non organik pada 2006, namun keuntungannya sangat kecil. Ia pun beralih ke budidaya lele organik sejak dua tahun yang lalu dan keuntungannya meningkat hingga 50%

Related News

Jagad Tani - Petaninya Milenial App Download

Free Sign & Download, Android App